Semangat Hari Kartini: RS Siloam Jogja Edukasi Dini Cegah Kanker Serviks

JAKARTA (Pos Sore) — Kanker serviks menjadi penyebab keempat beresiko kematian pada wanita di seluruh dunia.

Cara terbaik dalam penanggulangan kanker serviks adalah melalui deteksi dini, yaitu test papanicolaou atau lebih dikenal sebagai papsmear.

Deteksi dini penting karena umumnya kanker serviks tidak memiliki gejala khusus. Adapun Papsmear digunakan dalam mendeteksi infeksi virus Human Papillomavirus (HPV).

Terdapat 12 tipe HPV beresiko tinggi. Sebagian besar infeksi akan ditekan pertumbuhannya oleh sistem imun dalam 1-2 tahun tanpa menyebabkan gejala kanker. Sementara itu faktor resiko kanker serviks adalah kondisi yang meningkatkan kemungkinan terinfeksi HPV.

Contohnya, pasangan seksual lebih dari satu, melakukan hubungan seks di usia muda, sistem imun tubuh yang lemah, merokok, mengkonsumsi obat-obatan diethylstilbestrol selama kehamilan dan riwayat kanker pada organ reproduksi bagian bawah.

“Pemeriksaan ini sebaiknya dilakukan setiap 3 tahun sekali sejak usia 21 tahun. Tidak ada batasan usia untuk deteksi dini,” kata dokter spesialis kandungan dari Siloam Jogjakarta, dr. Danny Wiguna SpOG.

Menurutnya, faktor resiko kanker dapat dimulai pada usia muda. Karenanya, tidak terdapat usia maksimal untuk melakukan skrinning karena insidensi terjadi kanker serviks meningkat sesuai dengan usianya. Meski tidak menutup kemungkinan bisa terjadi pasa usia yang lebih muda.

“Bahkan setelah menopouse, seorang wanita perlu melakukan pemeriksaan pap smear secara regular,” tambah Danny Wiguna.

Mengingat pentingnya deteksi dini akan pencegahan kanker serviks dan perlunya semangat kebersamaan dalam mewujudkan kesehatan, maka pada hari Kartini (21/4) Siloam Hospitals Group mempersembahkan papsmear package (papsmear+konsultasi dokter specialis kandungan) senilai Rp 288.000 yang meliputi keseluruhan proses deteksi dini kanker serviks.

Perlu diketahui akan persiapan deteksi dini yaitu wanita yang tidak sedang menstruasi, dua hari sebelum pemeriksaan tidak melakukan hubungan seksual, penggunaan tampon, menggunakan obat-obatan pada vagina, kontrasepsi pada vagina (foam atau gel).

“Pemeriksaan ini tidak memilki komplikasi dan juga tidak nyeri. Banyak pasien yang menanyakan apakah pemeriksaan ini nyeri atau tidak, sakit atau tidak,” ujarnya. (tety)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Share this product!