Biosains Rapid Test GAD65 Pemenang IndoHCF Innovation Awards 2018 untuk Kategori Inovasi Alkes

JAKARTA (Pos Sore) — Pemenang inovasi alkes di ajang IndoHCF Innovation Awards 2018, yakni Prof. Dr. Aulanni’am, Drh, DES dari Universitas Brawijaya Malang, dengan karya Biosains Rapid Test GAD65.

Salah satu produk unggulan Institut Biosains Universitas Brawijaya ini merupakan hasil kerjasama dengan PT Biofarma Bandung dan telah dilaunching pada 2014. 

Prof. Dr. Aulanni’am, Drh, DES yang ditemui di sela acara penghargaan, Kamis (26/4), mengatakan, produk rapid test untuk mendeteksi Diabetes Mellitus (DM) tipe 1 dan tipe 1,5. Pada kit ini, deteksi dilakukan terhadap keberadaan autoantibodi GAD65 yang merupakan marker dini kerusakan sel beta pankreas.

“Kit ini mampu mendeteksi awal terjadinya autoimun diebetes sehingga dapat dilakukan pada bayi dan anak-anak yang memiliki riwayat penderita DM dalam keluarganya. Penggunaan kit ini merupakan skrining awal terhadap penyakit DM,” terangnya.

Tujuannya untuk memperbaiki tatalaksana pencegahan terhadap DM sehingga penting bagi keluarga yang memiliki riwayat DM, agar tidak berlanjut menjadi penderita DM. 

Diagnosa dilakukan dengan menggunakan serum darah sebanyak 20 mikroliter dan hasilnya sudah didapatkan dalam waktu 30 menit. Kit ini tidak memerlukan alat khusus sehingga mudah dilaksanakan pada tingkat layanan medis sederhana.

“Biosains Rapid Test GAD65 telah terbukti memiliki sensitivitas dan spesifitas yang tinggi. Produk Biosains Rapid Test GAD65 yang merupakan kit diagnostik dini untuk penyakit diabetes saat ini siap untuk di produksi massal dan dipasarkan setelah kami melakukan riset selama beberapa tahun yang lalu,” kata Prof. Dr. Aulanni’am.

Dia mengaku untuk produk Biosains Rapid Test GAD65 ini telah mendapatkan sertifikasi laboratorim dan telah diuji pakai di negara luar seperti Afrika dan Timur Tengah. Tetapi belum diproduksi secara masal.

Produk Kit diagnostik tersebut sudah melewati tes uji laboratorium dan pasien di lapang dengan hasil sensitivitas yang sangat baik (100%) dan spesifisitas 91,67%.

“Kami dalam hal ini siap memproduksi namun masih memerlukan fasilitas gedung atau ruangan yang memadai sesuai dengan kebutuhan standar laboratorium produksi Good Laboratory Practice -Good Manafacturing Practice (GLP-GMP),” katanya. 

Prof. Dr. Aulanni’am menambahkan, kemungkinan besar produk ini secara komersial akan dipasarkan Biofarma sebagai institusi yang memiliki ijin dan wewenang untuk memasarkan produk sejenis.

“Dalam waktu dekat ini akan diadakan koordinasi lanjut pembicaraan Biofarma, UB dan BinFar (Direktorat Jenderal Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan) terkait dengan registrasi produk diagnostik sebagai alat kesehatan,” katanya. (tety)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Share this product!