Indonesia Hadapi Tiga Tantangan Pemanfaatan Big Data

Minggu, 13 Mei 2018

JAKARTA (Pos Sore) — Berdasarkan survei Sharing Vision di Indonesia pada 2016, sebanyak 74 persen dari 35 orang responden mengaku berpotensi mengadopsi big data.

Sedangkan fenomena Indonesia kebanyakan masyarakat hanya menjadi konsumen atau penikmat big data, sehingga Indonesia kekurangan tenaga pekerja di bidang big data.

Padahal, kebutuhan ilmuwan data diprediksi semakin besar, berbanding lurus dengan perkembangan perusahaan yang memanfaatkan analisis big data untuk mengambil keputusan bisnis.

Begitu persoalan yang mengemuka dalam Seminar Nasional bertajuk ‘Kesiapan, Peluang dan Tantangan Penggunaan Big Data Dalam Ekonomi Digital’, yang diadakan Institut Ilmu Sosial dan Manajemen STIAMI, di Graha Dirgantara, Halim Perdanakusumah, Jakarta, Minggu (13/5).

Dalam seminar itu, terungkap ada tiga tantangan utama dalam pemanfaatan big data. Tantangan pertama, ketersediaan dan akses terhadap sumber data, mengingat aksesibilitas data sering berbenturan dengan aspek kerahasiaan data.

Tantangan kedua adalah kualitas data, mengingat informasi yang terkandung dalam big data adalah data mentah yang masih banyak mengandung noise. Tantangan ketiga adalah keterbatasan sumberdaya manusia dengan kualifikasi data scientist.

“Big data menjadi kunci membangun ekonomi yang terakselerasi, membutuhkan kebijakan serta wadah terakselerasi yang mampu menjawab tantangan Negara Digital Ekonomi,” kata Dirjen Aplikasi dan Informasi Kemenkominfo RI Semuel Abrijani Pangerapan, B.Sc, yang menjadi pembicara kunci dalam seminar tersebut.

Dikatakan, pemanfaatan big data yang disertai kolaborasi lintas institusi, baik pemerintah, lembaga negara, akademisi maupun industri, dapat menghasilkan informasi yang berharga dalam pengambilan keputusan.

Dengan demikian, tujuan pemerintahan Republik Indonesia untuk menempatkan Indonesia sebagai Negara Digital Ekonomi terbesar di Asia Tenggara tahun 2020 akan tercapai.

Menurutnya, ekonomi digital dan big data, keduanya saling terkait. Sama-sama berbasis pada penggunaan internet. Nah, pertumbuhan ekonomi digital akan membutuhkan dukungan big data. Semakin besar data bisa dikumpulkan, maka ini akan menjadi dukungan yang penting bagi tumbuhnya ekonomi digital.

“Indonesia dengan populasi berjumlah 262 juta jiwa, di mana 55 persen di antaranya adalah pengguna internet aktif merupakan potensi besar bagi berkembangnya ekonomi digital. Ini sekaligus menjadi potensi bagi tumbuhnya industri dibidang teknologi,” urainya.

Ia mengatakan saat ini perusahaan teknologi terus bermunculan di Indonesia. Perusahaan tersebut menyediakan aplikasi teknologi untuk berbagai kebutuhan seperti alat transportasi, aplikasi belanja, aplikasi kesehatan, pendidikan dan lainnya.

“Go-Jek misalnya, ini bukan perusahaan penyedia alat transportasi, tetapi hanya berjualan aplikasi teknologi. Juga Tokopedia, Blibli, dan lainnya. Mereka adalah perusahaan yang bergerak dibidang teknologi,” kata Semuel.

Menurutnya, semakin banyak perusahaan yang bergerak di bidang teknologi, dan makin banyaknya kebutuhan manusia yang bisa diperoleh melalui aplikasi teknologi, maka data yang terkumpul akan semakin besar. Ini terjadi karena setiap mengakses aplikasi, orang diminta mengirimkan atau melaporkan datanya terlebih dahulu.

Semuel mengatakan pada era digital seperti sekarang ini, siapapun bisa masuk dan menjadi pengusaha teknologi. Tidak harus mereka yang memiliki modal besar atau memiliki jaringan kuat.

“Sayangnya, industri digital di Indonesia masih didominasi oleh pemain-pemain besar. Padahal peluang terbuka bagi siapa saja. Mengingat data memang terbuka dan bisa dimasuki oleh siapa pun,” tambahnya.

Karena itu, pihaknya mendorong anak muda, para mahasiswa untuk terjun menjadi pengusaha di bidang teknologi. Peluang ekonomi digital masih terbuka sangat lebar dan bisa dimasuki oleh siapapun.

Data menunjukkan sampai saat ini terdapat sekitar 26 juta pengusaha berbasis digital di Indonesia dan 1.705 star-up.

Big data itu sendiri diakui Semuel bisa dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan. Seperti prediksi nilai tukar mata uang asing, penilaian kredit. Juga bisa untuk pemberian kredit usaha rakyat (KUR), analisis data untuk merchant, mendeteksi fraud (kecurangan), mendeteksi aruslalu lintas secara real time, mendukung smart cities, dan lainnya. (tety)