Harapan Masyarakat Terkait Penggeledahan Warga

Aparat Jangan Gagap, Teroris Bisa Bersorak Gembira

Kamis, 17 Mei 2018
Petugas keamanan sedang melakukan penggerebekan di sebuah tempat yang diduga teroris (youtube/kompas)

Possore.com– Bersamaan dengan ditangkapinya beberapa orang terduga teroris di berbagai wilayah Indonesia oleh petugas keamanan, sebuah video yang menggambarkan seorang beratribut santri yang sedang berada di pingir jalan ‘’dipaksa’’ petugas membongkar barang bawaannya viral di tengah masyarakat. Video yang viral melalui media social itu menggambarkan seseorang bersarung membawa tas dan kardus, yang isinya ternyata pakaian sehari hari.

Menanggapi video ini, Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) M Sulton Fathoni mengatakan, aparat keamanan gagap terhadap masyarakat yang mengenakan baju identitas agama. “Rekaman video tersebut tak hanya potret kegagapan aparat kita, juga keterbatasan penguasaan ilmu tentang masyarakat Muslim yang bersifat keamanan,” kata Sulton di Jakarta, Rabu (16/5) sebagaimana diberitakan Republika.co.id.

Berita ini kemudian memancing berbagai pendapat dan pandangan masyarakat. Sampai Kamis pagi (17/5), beberapa komentar menarik muncul, ada yang cukup santun, ada yang melebar ke mana mana, dan ada yang cukup kritis.

‘’Polisi hati hati jika melakukan yg seperti ini lagi,,mereka teroris bersorak dan gembira melihat kelakuan aparat, Kenapa?,karena jika sering maka akan timbul perselisihan dan kejengkelan dari masyarakat,,akibatnya kegaduhan baru timbul yg tidak semestinya.. Mereka teroris makin bahagia,’’ tulis seseorang yang mencantumkan identitas sebagai Denn Denaiko.

‘’Indonesia jangan jadi bangsa bodoh trus….rakyatnya terasa mengikuti kiri mengikuti kanan…mengikuti liberal demokrasi…demokrasi liberal bangkrut..mengikuti komunis…komunis bangkrut…balik lagi mengikuti si a, si b…….ayo tegak berdiri di kaki sendiri…muslim ayo maju di negara sendiri…hormati minoritas bukan harus takut dengan minoritas…kita harus berada di depan minoritas…bersama membangun tanpa harus takut atau di dikte siapapun….teroris gak jelas definisinya….yg buat…liberal…. dts,’’ tulis seorang komentator berinitial Denx Bagus dalam komentar yang cukup panjang.

‘’Agar kedepan, Aparat tidak lagi gagap…monggo, awali dengan Bismillah semoga, Alloh SWT Ridho… ,’’ tulis seseorang yang menyebut diri Muhammad Budiyanto. Namun pada akhir kalimatnya yang simpati ini, dia menambahkan embel embel: ‘’2019 Ganti Presiden, Aamiin..’’.

Sementara seseorang menyebut diri Drs.Abdul Ghafir MA dalam bahasa singkat menuliskan komentarnya,’’ Rezim ini nampaknya sudah gelap mata.’’

‘’Model kaya gini yg membuat “sebagian” masyrakat terasa enggan terlibat dlm membantu aparat,’’ komentar seseorang yang menyebut diri Widia Rahman.

Masih ada beberapa komentar lainnya dari anggota masyarakat yang cukup panjang kalaun diteruskan.

Sebelumnya, sebagaimana diberitakan Republika.co.id,Rabu (16/5), beredar rekaman video viral di media sosial tentang seorang santri putra yang diinterogasi beberapa polisi di pinggir jalan. Polisi curiga terhadap ransel dan kardus yang dibawanya.

Menurut Sulton, aparat tak hanya harus memahami tentang seluk-beluk senjata dan terorisme. Faktor penting lainnya yang perlu dipahami adalah struktur dan kultur sosial masyarakat Muslim.

Dia mengatakan, pengabaian terhadap faktor kultur dan struktur sosial masyarakat Muslim akan berakibat pada ketidakjelian identifikasi. “Penting memahami struktur dan kultur masyarakat Muslim Indonesia. Ini tema yang tidak rumit. Coba belajarlah agar sasarannya tepat dan tidak menimbulkan kejengkelan baru masyarakat luas,” kata dia.

Sulton meyakini jika kasus seperti itu tidak dievaluasi dan terjadi berulang-ulang, berpotensi memunculkan kegaduhan dan keresahan masyarakat. “Ujungnya, para teroris bersorak upayanya membuat panik berhasil,” kata dia.

Sebelumnya, Kepala Divisi Hubungan Masyarakat Polri Inspektur Jenderal Polisi Setyo Wasisto pun angkat bicara soal meningkatnya “kecurigaan” personel Polri. Ia meminta tindakan polisi saat ini dimaklumi.

“Kita tidak boleh underestimate. Mohon maaf kepada masyarakat yang disetop, dimintai keterangan, dan ditanya seharusnya kooperatif kalau dia tidak punya masalah,” ujarnya di Markas Besar Polri, Jakarta, Selasa (14/5). (lya/sumber: Republika)

Populer
Terkomentari
Bertekad Terus Berjuang
Prabowo: Jangan Jadikan RI Jadi Pesuruh Asing
Jumat, 22 Agustus 2014
Yang Muda Yang Berprestasi
‘Drizzle’ Gebrak Blantika Music Thrash Metal Di Bekasi
Minggu, 2 Maret 2014
ie_osh Batik Terobos Pasar Dunia
Sabtu, 22 Maret 2014
Dinilai Tak Mampu Dongkrak Daya Saing Industri
Jokowi Diminta Copot Saleh Husin
Senin, 8 Juni 2015
Tiga SKPD di Tasikmalaya Saling Tuding
Keberadaan Gudang Meresahkan Warga
Kamis, 8 Oktober 2015