C-Hub FISIPOL UGM Ajak Sarjana Baru Kembangkan Kewirausahaan Sosial Melalui AKM

Selasa, 29 Mei 2018

JAKARTA (Pos Sore) — Creative Hub Fisipol UGM (C-Hub Fisipol) mengembangkan program kewirausahaan sosial (sociopreneurship) melalui program Akademi Kewirausahaan Masyarakat (AKM).

Program AKM ini memberikan kesempatan para sarjana yang belum terserap dunia kerja untuk menekuni kewirausahaan sosial. Diharapkan dapat melahirkan gerakan kewirausahaan berbasis pedesaan.

“Kita mendorong peningkatan jumlah wirausahawan menjadi 4 persen dari total penduduk Indonesia, sebagai syarat untuk menjadi negara maju,” kata Dekan Fakultas Fisipol UGM, Erwan Agus Purwanto, di Yogyakarta, Senin (28/5).

Program AKM terbagi dalam 3 tahap, yaitu cloning sociopreneurship, deployment sarjana ke pedesaan, dan off-takers produk wirausaha. Tahap awal, AKM fokus pada program cloning berbagai bentuk wirusaha berbasis pedesaan yang telah berhasil.

Dalam implementasinya, program AKM melibatkan kelompok bisnis, filantropi, pemerintah pusat dan daerah, sarjana baru lulus, dan komunitas internasional.

Menurut Erwan, setiap tahun ada tambahan pengangguran terdidik sekitar 66.000 orang. Perlu terobosan untuk mendidik calon wirausaha-wirausaha baru. Global Enterpreneurship Index (GEI) Indonesia ada di urutan 97 dari 136 negara.

“Indonesia kalah dengan Thailand, Malaysia, dan Vietnam. Salah satu penyebab rendahnya GEI adalah kecilnya presentase jumlah wirausaha akibat rendahnya ketrampilan dan ethos kewirausahaan,” ungkapnya.

Berdasarkan data Kemendes, saat ini tercatat setidaknya 22.000 desa masuk kategori tertinggal.

“Kita punya banyak potensi komoditas yang tersebar di puluhan ribu desa yang belum dikelola optimal. Untuk itu, perlu intervensi positif ke pedesaan. Salah satunya melalui pengiriman sarjana wirausaha untuk bekerja bersama dengan rakyat,” katanya.

Melalui AKM, C-Hub Fisipol UGM mendorong lahirnya para Sarjana Pendamping Kewirausahaan yang siap diterjunkan ke desa-desa untuk menularkan pengetahuan, keterampilan, dan jejaring yang dibutuhkan dalam pengembangan wirausaha.

Sarjana pendamping ini akan bekerja bersama warga mengembangkan kewirausahaan yang sesuai dengan kebutuhan lokal.

Program AKM ini terbuka bagi sarjana baru lulus dari seluruh Indonesia, khususnya yang belum bekerja — atau belum memiliki usaha tapi berniat berwirausaha.

Para sarjana baru lulus itu nantinya bisa mengikuti program pelatihan yang dipusatkan di Yogyakarta, sebelum diterjunkan ke desa-desa yang telah ditentukan di seluruh Indonesia.

Secara teknis, tahapan modul cloning AKM akan meliputi pendaftaran dan seleksi, inkubasi (training sociopreneurship dan pendampingan masyarakat selama beberapa hari), pelatihan kebangsaan, dan dialog kebangsaan yang melibatkan beberapa kementerian. (tety)