MUI Lepas Tangan Soal Keberangkatan Anggota Wantimpres ke Israel

Rabu, 13 Jun 2018

JAKARTA, Pos Sore– Majelis Ulama Indonesia (MUI) sepertinya lepas tangan soal keberangkatan anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Watimpres), Yayha Cholil Staquf ke Israel memenuhi undangan konfrensi hubungan Yahudi-Amerika beberapa hari lalu.

Ketua Umum MUI, KH Ma’ruf Amin mengatakan, keberangkatan Yahya ke Israel tidak terkait dengan MUI dan Nadhatul Ulama (NU). “Keberangkatan Yahya tidak ada kaitannya dengan MUI dan juga NU. Kami tidak mendukung,” kata Ma’ruf dalam konferensi pers di Jakarta, Selasa (12/6).

Kalau ditanya alasannya, silahkan tanya yang bersangkutan. MUI konsisten membela Palestina. Sama halnya dengan sikap pemerintah dan juga negara-negara yang tergabung dalam Organisasi Kerja Sama Islam (OKI). “MUI mengakui Yerusalem sebagai Ibu Kota dari Palestina,” kata dia.

Yahya Staquf diundang menjadi pembicara dalam seminar internasional yang diprakarsai American Jewish Committee (AJC) di Israel. “Itu inisiatif dab tanggung jawab sendiri.

Seberapa jauh pengaruhnya, terhadap upaya Kementerian Luar Negeri, apakah memperlancar upaya Kemenlu dalam mengupayakan perdamaian dengan tetap menjaga agar Palestina menjadi negara yang merdeka, berdaulat atau justru mengganggu nanti akan dilihat.

“Nanti akan dilihat, seberapa mengganggunya keberangkatan Yahya ini. MUI tidak punya hak untuk menindak, kami serahkan sepenuhnya pada NU,” kata Ma’ruf.

Presiden Jokowi di Istana Bogor menegaskan, menegaskan, kepergian anggota Yahya ke Israel untuk urusan pribadi. “Itu urusan pribadi. Beliau menyampaikan urusan pribadi karena beliau diundang sebagi pembicara di Israel,” kata Jokowi.

Kepala Negara mengungkapkan, kepergian Yahya itu tetap memberikan dukungan penuh kepada kemerdekaan Palestina. “Saya juga belum mendapatkan laporan, beliau belum pulang. Intinya (di Israel) juga berikan dukungan pada Palestina,” tandas Jokowi lagi.

Yahya diundang sebagai pembicara oleh Israel Council on Foreign Relations (ICFR), sebuah forum independen yang mempelajari dan membahas kebijakan luar negeri, terutama yang berkaitan dengan Israel dan Yahudi. ICFR beroperasi di bawah lindungan Kongres Yahudi Dunia (WJC).

Dalam salinan surat undangan, Yahya diminta menyampaikan kuliah umum berjudul ‘Shifting Geopolitical Calculus: From Conflict to Cooperation’.
Acara digelar di The David Amar Worldwide North Africa Jewish Heritage Center, Yerusalem.

Berbagai pihak, termasuk Palestina, menyatakan kecewa dan telah mengirimkan surat protes kepada Kementerian Luar Negeri Indonesia. Bahkan dalam negeri, berbagai pihak termasuk pimpinan dan anggpta DPR RI menyesalkan tindakan Yahya. (decha/ant)

Populer
Terkomentari
Bertekad Terus Berjuang
Prabowo: Jangan Jadikan RI Jadi Pesuruh Asing
Jumat, 22 Agustus 2014
Yang Muda Yang Berprestasi
‘Drizzle’ Gebrak Blantika Music Thrash Metal Di Bekasi
Minggu, 2 Maret 2014
ie_osh Batik Terobos Pasar Dunia
Sabtu, 22 Maret 2014
Dinilai Tak Mampu Dongkrak Daya Saing Industri
Jokowi Diminta Copot Saleh Husin
Senin, 8 Juni 2015
Tiga SKPD di Tasikmalaya Saling Tuding
Keberadaan Gudang Meresahkan Warga
Kamis, 8 Oktober 2015