Warning: curl_init() has been disabled for security reasons in /home/terbscom/public_html/possore.com/psr/wp-includes/Requests/Transport/cURL.php on line 95

Warning: curl_setopt() expects parameter 1 to be resource, null given in /home/terbscom/public_html/possore.com/psr/wp-includes/Requests/Transport/cURL.php on line 97

Warning: curl_setopt() expects parameter 1 to be resource, null given in /home/terbscom/public_html/possore.com/psr/wp-includes/Requests/Transport/cURL.php on line 98

Warning: curl_setopt() expects parameter 1 to be resource, null given in /home/terbscom/public_html/possore.com/psr/wp-includes/Requests/Transport/cURL.php on line 100

Warning: curl_setopt() expects parameter 1 to be resource, null given in /home/terbscom/public_html/possore.com/psr/wp-includes/Requests/Transport/cURL.php on line 103

Warning: curl_setopt() expects parameter 1 to be resource, null given in /home/terbscom/public_html/possore.com/psr/wp-includes/Requests/Transport/cURL.php on line 106

Warning: curl_setopt() expects parameter 1 to be resource, null given in /home/terbscom/public_html/possore.com/psr/wp-includes/Requests/Transport/cURL.php on line 333

Warning: curl_setopt() expects parameter 1 to be resource, null given in /home/terbscom/public_html/possore.com/psr/wp-includes/Requests/Transport/cURL.php on line 334

Warning: curl_setopt() expects parameter 1 to be resource, null given in /home/terbscom/public_html/possore.com/psr/wp-includes/Requests/Transport/cURL.php on line 363

Warning: curl_setopt() expects parameter 1 to be resource, null given in /home/terbscom/public_html/possore.com/psr/wp-includes/Requests/Transport/cURL.php on line 370

Warning: curl_setopt() expects parameter 1 to be resource, null given in /home/terbscom/public_html/possore.com/psr/wp-includes/Requests/Transport/cURL.php on line 375

Warning: curl_setopt() expects parameter 1 to be resource, null given in /home/terbscom/public_html/possore.com/psr/wp-includes/Requests/Transport/cURL.php on line 376

Warning: curl_setopt() expects parameter 1 to be resource, null given in /home/terbscom/public_html/possore.com/psr/wp-includes/Requests/Transport/cURL.php on line 377

Warning: curl_setopt() expects parameter 1 to be resource, null given in /home/terbscom/public_html/possore.com/psr/wp-includes/Requests/Transport/cURL.php on line 379

Warning: curl_setopt() expects parameter 1 to be resource, null given in /home/terbscom/public_html/possore.com/psr/wp-includes/Requests/Transport/cURL.php on line 382

Warning: curl_setopt() expects parameter 1 to be resource, null given in /home/terbscom/public_html/possore.com/psr/wp-includes/Requests/Transport/cURL.php on line 150

Warning: curl_setopt() expects parameter 1 to be resource, null given in /home/terbscom/public_html/possore.com/psr/wp-includes/Requests/Transport/cURL.php on line 151

Warning: curl_setopt() expects parameter 1 to be resource, null given in /home/terbscom/public_html/possore.com/psr/wp-includes/Requests/Transport/cURL.php on line 159

Warning: curl_exec() has been disabled for security reasons in /home/terbscom/public_html/possore.com/psr/wp-includes/Requests/Transport/cURL.php on line 162

Warning: curl_errno() expects parameter 1 to be resource, null given in /home/terbscom/public_html/possore.com/psr/wp-includes/Requests/Transport/cURL.php on line 167

Warning: curl_errno() expects parameter 1 to be resource, null given in /home/terbscom/public_html/possore.com/psr/wp-includes/Requests/Transport/cURL.php on line 167

Warning: curl_setopt() expects parameter 1 to be resource, null given in /home/terbscom/public_html/possore.com/psr/wp-includes/Requests/Transport/cURL.php on line 181

Warning: curl_setopt() expects parameter 1 to be resource, null given in /home/terbscom/public_html/possore.com/psr/wp-includes/Requests/Transport/cURL.php on line 182
Paviliun Indonesia Dapat Apresiasi Positif di Ajang Venice Architecture Biennale Paviliun Indonesia Dapat Apresiasi Positif di Ajang Venice Architecture Biennale

Paviliun Indonesia Dapat Apresiasi Positif di Ajang Venice Architecture Biennale

Sabtu, 14 Jul 2018

 

VENEZIA, ITALIA (Pos Sore) – Paviliun Indonesia mendapat apresiasi positif dari penggiat arsitektur dunia dalam seminar berjudul ‘The Tale of The Void’, di kota Venezia, Italia, Minggu (8/7). Seminar ini rangkaian dari acara 2 tahunan, Venice Architecture Biennale bertema ‘Freespace’.

Karya yang ditampilkan dalam ajang tersebut dinamai ‘Sunyata The Poetics of Emptiness’. Freespace yang diterjemahkan dalam karya itu adalah filosofi kekosongan atau suwung yang telah dikenal secara dekat oleh masyarakat Nusantara terutama Jawa.

Konsep suwung juga memberikan pengaruh yang mendalam dan kerap mengandung unsur spiritual dan kehadiran kekuatan energi lain. Konsep ini banyak tercermin dan terasa dalam bangunan dan arsitektur nusantara.

“Void dalam arsitektur tradisional nusantara merupakan konsep yang telah dikenal dan juga telah diterapkan pada banyak bangunan sebagai jawaban pada tantangan gografikal juga sebagai cara memberikan ruang pada kebutuhan ritual dan juga kebutuhan untuk berinteraksi dengan sesama manusia,” jelas Ary Surya, sang kurator.

Menanggapi Sunyata, Professor University of School of Architecture Venice (IUAV), Renato Rizzi, mengatakan arsitektur terdiri dari kata arche dan techne. Arche berkaitan dengan hal-hal yang bersifat tak ternilai atau intangible sedangkan techne berkautan dengan hal-hal yang bisa dihitung nilainya atau tangible.

“Yang menjadi masalah, akhir-akhir ini, manusia cenderung bertumpu pada hal-hal yang bersifat tangible dan melupakan bahkan menolak hal-hal yang bersifat intangible, sebagai akibat kemalasan berpikir dan munculnya dorongan yang kuat untuk mendominasi yang lain,” ujarnya.

Menurutnya, manusia saat ini berada pada periode yang sangat mengerikan. Ada yang menganggap hal yang eksak seperti teknologi sangat dibutuhkan sebagai alat untuk mendominasi dan menguasai sesama.

Keadaan ini membuat manusia terjebak dan tidak bisa memahami, ada hal-hal yang nilainya jauh lebih tinggi dan jauh melampaui kekuasaan namun tidak mendominasi, yang disebut arche.

Ia menegaskan, dalam dunia arsitektur, arche adalah sesuatu yang intangible, tidak bisa dinilai tapi justru kekuatannya lebih tinggi dan kita sebut grace (anugerah). “Grace ini hanya bisa hadir melalui pribadi yang singular, pribadi yang mengenal dirinya sendiri, yang hadir secara spesifik dan unik pada pribadi masing-masing.”

Karenanya, dengan hadirnya tema Freespace ini, diharapkan manusia dapat menarik diri, dari hiruk pikuk kebutuhan manusia pada dunia material dan teknologi, untuk sejenak merenung dan berkontemplasi, memberi waktu pada tiap pribadi untuk mengenal sisi masing-masing yang tangible dan intangible serta memanfaatkan keduanya dalam porsi yang seimbang.

Albert Wang, profesor arsitektur dari departemen arsitektur, Universitas Florida, Amerika Serikat, yang hadir menyatakan kagum pada instalasi yang ditampilkan oleh tim kurator di paviliun Indonesia.

Menurutnya, paviliun Indonesia mampu menangkap ekspresi tentang Sunyata atau void atau kekosongan itu sendiri.
Manusia modern telah diperbudak oleh teknologi dan materi.

“Kehadiran konsep tentang void ini mengingatkan sekaligus memberi kesempatan pada manusia untuk mempersilahkan kembali momen dan kekosongan sebagai bentuk kontemplasi pribadi, sebelum kebendaan dan teknologi menguasai kehidupan masyarakat,” ujarnya.

Tak hanya dari para arsitek, kekaguman terhadap Sunyata juga disampaikan oleh Blogger dan influencer Christiane Bùrklein. Ia mengatakan paviliun Indonesia memberikan kesan yang mendalam tentang konsep kekosongan dan berhasil menyampaikannya dalam visual yang sangat luar biasa, sekaligus memberikan kesan persahabatan yang intim.

Momentum ini sejatinya tak lepas dari peran Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) yang pada 2017 melakukan seleksi kurator untuk mengikuti La Biennale Architettura Venezia 2018. Ajang ini sekaligus menyasar peluang baru untuk memahami kekayaan arsitektur Indonesia bagi kemajuan ilmu dan praktik arsitektur di masa depan.

Direktur Pengembangan Pasar Luar Negeri – Bekraf, Boni Pudjianto mengatakan Bekraf ingin mendorong para Arsitek Indonesia untuk menampilkan karya mereka di pentas dunia.

“Kami berharap agar masyarakat internasional makin mengenal filosofi arsitektur Indonesia yang sangat berakar pada budaya nusantara. Unsur-unsur inilah yang memberi kekuatan pada desain ruang dan bangun Indonesia,” jelas Boni Pudjianto. (tety)