Melongok Koperasi Pontren Al Ittifaq sebagai Pusat Inkubasi Agrobisnis

BANDUNG (Pos Sore) — Menjadi santri di Pondok Pesantren Al Ittifaq di Kecamatan Rancabali, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, ternyata tidak hanya berkutat dengan ilmu agama dan kegiatan mengaji Al Quran dan belajar ilmu agama.

Di pondok pesantren pimpinan KH Fuad Affandi ini para santri juga dibina dengan kemampuan usaha terutama di sektor pertanian atau agribisnis. Dari usaha agribisnis ini para santri mampu memasok produk sayur-mayur ke pasar-pasar modern di Bandung hingga ke luar wilayah bahkan ke Jakarta.

Keberhasilan pondok pesantren yang didirikan KH Mansyur pada 1 Februari 1934 dalam mengembangkan usaha agribisnis tak lepas dari peran sang cucu, KH Fuad Affandi.

Di tangan KH Fuad Affandi, pendidikan di ponpes diterapkan lebih modern. Sejak 1970 mencoba memadukan antara kegiatan keagamaan dengan kegiatan usaha pertanian atau agribisnis di pesantren yang terletak di Kampung Ciburial, Desa Alamendah, Kecamatan Ciburial, itu.

Pemilihan untuk mengembangkan usaha agribisnis tersebut menurut Fuad Affandi karena sesuai dengan potensi alam yang ada di sekitar pesantren yakni wilayah pegunungan berhawa sejuk.

“Di muka bumi ini tak ada pekerjaan yang paling mudah selain bertani, karena tak membutuhkan syarat-syarat khusus dan siapapun boleh melakukannya. Kenapa ini disia-siakan,” ujarnya saat menerima kunjungan Asisten Deputi Pengembangan Investasi Usaha Kementerian Koperasi dan UKM Sri Iastiati ke Pondok Pesantren Al Ittifaq, Jumat (3/8).

Lambat laun apa yang dirintisnya membuahkan hasil nyata. Kegiatan usaha pertanian berlangsung hingga saat ini bahkan menjadi tulang punggung kegiatan pesantren.

Para santri yang datang dari berbagai pelosok di Tanah Air, mayoritas dari golongan ekonomi rendah, fakir miskin dan anak yatim piatu, tidak dipungut biaya. Nah, untuk keperluan makan, kesehatan dan kebutuhan sehari-hari dipenuhi dari hasil usaha pertanian yang dikelola para santri.

Di pondok pesantren ini dalam melaksanakan kegiatan agribisnisnya melibatkan para santri sehingga mereka selain dibekali ilmu agama juga ilmu agribisnis. Karena itu, banyak almuni santri juga melakukan usaha dalam bidang agribisnis dan umumnya berhasil.

Kegiatan usaha ini berdampak ganda terhadap proses pendidikan. Selain sebagai sarana pemenuhan kebutuhan warga pesantren juga menekan biaya produksi. Terlebih produk yang dihasilkan dapat memiliki nilai keunggulan kompetitif dan komparatif serta menjadi laboratorium bagi penumbuh kembang jiwa mandiri dan wirausaha santri.

Hal itu sesuai dengan tujuan pendidikan yang diharapkan PP Al Ittifaq yakni mencetak santri yang berakhlak mulia, mandiri dan berjiwa wirausaha.

Pondok pesantren ini pun resmi sebagai Unit Klinik Konsultasi Agribisnis. Di antaranya menjadi Pusat Inkubator Agribisnis, tempat inkubasi untuk meningkatkan kemandirian usaha kecil sebagai pemula menjadi usaha yang lebih mandiri. Juga tempat pelatihan agribisnis bagi para santri dan masyarakat tani sekitarnya, para petani maupun UKM dari beberapa wilayah dan dinas pemerintahan.

Usaha agribisnis yang dilakukan ponpes tersebut yakni memproduksi sayuran dataran tinggi untuk memenuhi permintaan pasar tradisional maupun pasar modern dan supermarket.

Jumlah komoditas yang diproduksi sekitar 25 jenis sayuran antara lain buncis, kentang, daun bawang, tomat, cabe hijau, paprika, sawi putih, lobak, seledri, kacang merah, wortel dan jagung semi.

Memproduksi komoditas sayuran yang siap untuk konsumen pasar swalayan dan pasar modern juga melalui sortasi, grading, packing, wrifing dan labeling sesuai permintaan pasar.

Di ponpes ini juga membuat dan mengembangkan bahan dasar pembuatan kompos untuk pupuk tanaman pangan dan hortikultura yang siap dipakai. Bahan dasar tersebut telah diperdagangkan secara luas dengan kode perdagangan MFA (Mikroorganisme Fermentasi Alami).

Selain itu, mengembangkan usaha penggemukan sapi dan domba. Kotoran ternak ini diolah menjadi biogas yang dialirkan ke dapur umum ponpes. Proses masak memasak pun tidak lagi menggunakan gas LPG melainkan biogas.

Sejak 1993 Pondok Pesantren Al Ittifaq mengadakan kerja sama jangka panjang dengan perusahaan mitra yakni Hero (sekarang Giant) Jakarta, Makro (Jakarta), serta sejumlah pasar swalayan di Bandung.

Mendirikan Koperasi
Lalu pada 1997 didirikan Koperasi Pondok Pesantren Al Ittifaq (Kopontren Alif) untuk lebih meningkatkan kualitas usaha pertaniannya. Melaui koperasi inilah produk sayuran yang dihasilkan oleh santri dan masyarakat dipasarkan ke berbagai supermarket di Bandung dan Jakarta.

Modal koperasi semuanya berasal dari anggota, tidak menggunakan fasilitas pembiayaan dari perbankan atau pinjaman dari lembaga keuangan lainnya. Meski banyak perbankan yang menawari kerjasama pembiayaan, namun koperasi ini tidak mau karena ingin lebih mandiri.

“Tekad koperasi adalah menjadi pelaku pemberdayaan masyarakat dan ekonomi. Potensi santri justru menjadi aset besar dalam membesarkan koperasi,” kata Irawan, Ketua Koperasi yang ternyata anak menantu dari KH. Fuad Affandi.

Kunci keberhasilan Koperasi dan Yayasan Al Itifaq adalah menggunakan sistem kelembagaan pesantren, santri sebagai downline atau sebagai pengembang di wilayah plasma yang dikembangkan oleh koperasi dan Yayasan. Kredibiltas santri sebagai sumberdaya manusia dapat dipercaya, ternyata mengasilkan sebuah ikatan emosi yang kuat untuk memajukan usaha koperasi dan yayasan.

“Koperasi ingin menjadi pelaku langsung dan memberdayakan potensi masyarakat di desa ini,” kata Fuad seraya menambahkan setiap hari tak kurang sebanyak 3 mobil sayuran yang harus dikirim ke pasaran.

Tak hanya para pengelola dan santri-santri yang merasakan manfaat dari kegiatan agriculture, tetapi juga masyarakat sekitar. Ini karena ponpes melibatkan masyarakat setempat baik dalam memproduksi suatu komoditi maupun dalam pengembangan kelembagaan Koperasi Pondok Pesantren dan Balai Mandiri Terpadu.

Kesuksesan Pondok Pesantren Al Ittifaq mengembangkan usaha agribinsi menjadikan pondok pesantren itu sebagai tempat magang atau pelatihan agribisnis dari santri-santri dari pondok pesantren lain di luar daerah, mahasiswa dari beberapa perguruan tinggi, petani dari berbagai daerah di tanah air bahkan dari luar negeri. (tety)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Share this product!