Hotel Luminor dan Gerakan Kopi Persahabatan Bagikan 1000 Cup Kopi Gratis

Selasa, 2 Okt 2018
Anang Ardiansyah, General Manager Luminor Hotel Pecenongan, di kedai 'kopi gratis'

JAKARTA (Pos Sore) — Banyak yang belum tahu jika 1 Oktober diperingati sebagai Hari Kopi Sedunia. Seluruh dunia memperingatinya. Tidak kecuali di Indonesia.

Ini bukan lagi sekedar tren minum kopi yang kian menjamur. Tetapi juga lebih kepada bagaimana minum kopi yang baik dan benar. Jika salah, ini akan berpengaruh juga pada kesehatan peminumnya.

Nah, inilah yang dilakukan Luminor Hotel bekerjasama dengan Gerakan Kopi Persahabatan. Keduanya berjibaku mengedukasi masyarakat (sekitar) tentang bagaimana meminum kopi yang baik.

Pendekatannya juga cukup humanis. Yaitu dengan membagikan 1.000 cup kopi gratis. Seribu cup ini terhitung sejak digelar pada 9 September hingga 1 Oktober 2018.

Tentu saja edukasinya menyasar pecinta kopi di kawasan sekitar Luminor Hotel, Pecenongan, Jakarta Pusat, termasuk masyarakat yang sedang melintas sekitar hotel.

“Tradisi minum kopi sudah dikenal masyarakat Indonesia sejak jaman dahulu. Sekarang bahkan sudah menjadi salah satu gaya hidup generasi milenial,” kata Anang Ardiansyah, General Manager Luminor Hotel Pecenongan.

Ditemui di sela Peringatan Hari Kopi Sedunia, Senin (1/10) malam, ia menambahkan, tidak banyak masyarakat yang tahu bagaimana cara menikmati minuman kopi dengan sesungguhnya.

“Ada teknik-teknik pembuatan dan pemilihan jenis kopi yang harus dikuasai agar minuman ini bisa dinikmati secara optimal,” tutur Anang yang juga gemar minum kopi ini.

Untuk memberikan edukasi dan menambah wawasan tentang kopi dan cara meminumnya, Luminor Hotel mengundang insan pecinta kopi untuk berdiskusi dan membedah kopi bersama-sama.

Diskusi tersebut melibatkan Lucas Christian, Founder Gerakan Kopi Persahabatan, Aditya Bayu, MC Barista, Regi Suryo, Coffe Blogger, Eko Prayogo, Dokumenter Film Kopi Cisadon, Adhitya Apriansyah, Cold Brew Treatments, serta Wild Riders dari Komunitas Moge.

Dari sekian banyak jenis kopi yang beredar di pasaran, Anang menyebut kopi Gayo dan kopi Toraja paling digemari tamu Luminor Hotel. Sedang kopi negara lain yang cukup banyak dicari adalah kopi Vietnam.

Sementara itu, Lucas Christian, Founder Gerakan Kopi Persahabatan mengatakan minum kopi itu menyehatkan. Asalkan tidak dicampur bahan lainnya terutama gula dan krimer. “Biarkan kopi bertanggungjawab sendiri kalau ada orang yang minum kopi kemudian ada gangguan kesehatan,” kata Lucas.

Ia sendiri baru sekitar 2 tahun memiliki ide untuk mengedukasi masyarakat tentang minum kopi yang benar. Ia mengakui saat melakukan edukasi, banyak yang menolaknya.

Alasannya kopi tanpa gula rasanya pahit, tidak enak dan alasan lainnya. Tetapi edukasi tersebut terus dilanjutkan di berbagai kesempatan.

“Saya menggunakan kopi gratis, menyediakan kopi gratis untuk memudahkan edukasi kepada masyarakat. Kadang di pameran, bazaar, perkantoran dan area lainnya,” lanjutnya.

Tujuan dari Gerakan Kopi Persahabatan itu sendiri antara lain mengenalkan kopi asli Indonesia, meningkatkan pendapatan per kapita petani kopi.

Selain itu, membantu memasarkan kopi petani, meningkatkan kualitas kopi petani dan menjalin silaturahmi antar penggemar kopi.

Regi Siryo, Coffee Blogger mengakui minum kopi saat ini sudah menjadi gaya hidup generasi milenial. Mereka mendatangi kafe, resto maupun lokasi lain hanya untuk minum kopi bersama. Sambil bekerja, berdiskusi, kadang juga untuk pertemanan.

Kopi, menurutnya, bukan sekedar menawarkan pertemanan. Kopi juga bisa menjadi sumber penghidupan. Ada petani yang terlibat dalam hal penanaman, ada pengepul, distributor, pedagang biji kopi, pedagang bubuk kopi, hingga pemilik cafe yang menjual kopi. (tety)