Kemenkop UKM Lakukan Pembinaan Keterampilan Masyarakat Terkena Bencana

Jumat, 5 Okt 2018

JAKARTA (Pos Sore) — Kementerian Koperasi dan UKM tengah mempersiapkan pelatihan kewirausahaan sebagai pemulihan ekonomi terhadap musibah bencana gempa dan tsunami yang melanda Palu sepekan terakhir ini.

“Sesuai PP 21 Tahun 2008 tentang Penanggulangan Bencana, peran Kemenkop UKM lebih kepada upaya pemulihan sosial, ekonomi, dan budaya, melalui pembinaan kemampuan keterampilan masyarakat yang terkena bencana,” kata Plt Deputi Bidang Pengembangan SDM Kementerian Koperasi dan UKM Rully Nuryanto, di Jakarta, Jumat (5/10).

Kegiatan pelatihan terpadu seperti pelatihan kewirausahaan, perkoperasian, dan vocational — bekerjasama dengan Dekranas dan PKK, rencananya dilaksanakan pada 8 Oktober 2018 di Kota Palu, Sulawesi Tengah.

Namun rencana ini diundur pelaksanaannya mengingat kondisi Kota Palu pasca bencana dan tsunami masih belum kondusif. Karena, bantuan yang lebih diperlukan dalam hal logistik, medis, dan perbaikan infrastruktur yang rusak.

Rully mengungkapkan, sepanjang 2018 pihaknya sudah melakukan pelatihan vocational (keterampilan) di 8 wilayah yang terkena bencana. Total peserta pelatihan sebanyak 240 orang.

Adapun 8 wilayah yang dimaksud yaitu Kabupaten Pacitan (banjir), Kabupaten Tasikmalaya (gempa), Kabupaten Garut (banjir), Kabupaten Lombok Timur (banjir bandang), Kabupaten Bireuen (gempa), Kabupaten Karangasem, Bali (gunung meletus), Kabupaten Bangli (gunung meletus), dan Kabupaten Gunung Kidul (banjir).

Mengenai materi pelatihan vocational, dikatakan, disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat setempat dan sesuai dengan potensi yang ada di wilayahnya masing-masing. Di Pacitan, misalnya, pelatihan vocational bidang olahan pisang dan emping jagung, di Tasikmalaya bidang rias dan tata boga, serta di Garut bidang tata rias dan pengolahan makanan.

Sementara itu, di Lombok Timur bidang pembuatan terasi dan kue kering, di Bireuen bidang perbengkelan sepeda motor dan tata boga, di Karangasem bidang penyulingan minyak wangi dan dupa serta packaging, di Bangli bidang kerajinan anyaman bambu, dan di Gunung Kidul bidang kue kering dan kue basah.

Selain itu, lanjut Rully, dalam rangka percepatan pemulihan pasca bencana gempa di Nusa Tenggara Barat (NTB), pihaknya sudah menggelar pelatihan vocational dengan peserta sebanyak 60 orang.

Tahun depan, pihaknya tetap fokus dan sudah menetapkan program pelatihan vocational di daerah pasca bencana. Di antaranya, Kabupaten Karo, Lombok Utara, Lombok Timur, Lombok Tengah, Kota Mataram, Kota Palu, Kabupaten Sigi, dan Kabupaten Donggala, dengan total peserta sebanyak 330 orang.

Di samping program pelatihan di wilayah terdampak bencana, pada 2018 ini juga Kemenkop UKM telah menggelar program pelatihan vocational di daerah perbatasan dan daerah tertinggal.

“Di daerah perbatasan, kita bekerjasama dengan Badan Nasional Pengelola Daerah Perbatasan, Kemenko Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, serta dinas koperasi UKM yang ada di wilayah perbatasan”, jelas Rully.

Untuk pelatihan vocational di daerah tertinggal, Rully menyebutkan, berdasarkan Perpres 131 Tahun 2015 tentang penetapan daerah tertinggal 2015-2019 sebanyak 122 kabupaten di 23 provinsi.

“Kita menggelar program pelatihan di 13 kabupaten, seperti Bondowoso, Sorong, Raja Ampat, Gorontalo Utara, Boalemo, Sigi, Bima, Banggai Kepulauan, Nias Utara, Lombok Barat, Situbondo, Seluma, dan Halmahera Selatan,” sebutnya.

Materi pelatihan selain menjadi kebutuhan dan potensi masyarakat setempat, juga diharapkan bermanfaat bagi masyarakat disana untuk bisa memulai sebuah usaha”, imbuh Rully.

Yang tak kalah menarik adalah khusus di provinsi Papua dan Papua Barat, Kemenkop UKM sudah melakukan prlatihan vocational, kewirausahaan, hingga pelatihan perkoperasian.

“Di sini, kita memiliki tugas dalam peningkatan keterampilan berwirausaha untuk orang asli Papua dan kewirausahaan mama-mama Papua”, pungkas Rully. (tety)