Indonesia Perlu Segera Bangun Kemandirian Teknologi Cyber

Sabtu, 6 Okt 2018

JAKARTA (Pos Sore) — Indonesia disebut sebagai negara tertinggal dalam hal penguasaan teknologi. Masih tertinggal jauh dengan negara-negara lain.

Sementara negara Barat dan Asia secara konsisten mengerahkan sejumlah besar dana dan para ilmuwannya berlomba menguasai iptek.

Maka tak heran kemudian bermunculan inovasi teknologi yang diterapkan ke dalam industri untuk meningkatkan daya saing produk dan meraup devisa.

Untuk penguasaan teknologi, Indonesia, Berdasarkan indeks yang dikeluarkan Internasional Telecommunication Union (ITU) pada 2017, berada di posisi 111 dari 176 negara dengan indeks sebesar 4,34.

Begitu pula dalam indeks daya saing global 2017-2018 yang dikeluarkan World Economic Forum terkait kesiapan teknologi, Indonesia berada pada rangking 80 dari 137 negara.

Menurut Ketua Aliansi Kebangsaan dan Pembina Yayasan Suluh Nuswantara Bhakti (YSNB) Pontjo Sutowo, rendahnya penguasaan teknologi Indonesia pada dasarnya terjadi karena banyak faktor.

Misalnya, karena lemahnya sinergi kebijakan iptek. Atau juga karena masih terbatasnya sumber daya iptek terutama anggaran penelitian dan pengembangan.

Selain itu, belum optimalnya mekanisme intermediasi iptek yang menjembatani interaksi antara kapasitas penyedia iptek dengan kebutuhan pengguna. Juga, adanya permasalahan difusi atau penyerapan teknologi.

“Terakhir, inovasi teknologi justru berkembang di masyarakat industri, bukan dari lembaga riset dan litbang yang dimiliki bangsa ini,” tuturnya dalam Diskusi Panel Serial 2017-2018 bertema ATHG Dari Luar Negeri (Perkembangan Teknologi), di Jakarta, Sabtu (6/10).

Narasumber dalam DPS Seri ke-16, ini yaitu Prof. Dr. Suhono Harso Supangkat dan Dr. Yono Reaksi Prodjo. Hadir pula Ketua FKPPI sekaligus Ketua Aliansi Kebangsaan dan Pembina YSNB Pontjo Sutowo, Ketua Panitia Bersama DPS Iman Sunario, dan Prof. Dr. La Ode Kamaludin yang bertindak sebagai moderator DPS.

Pontjo menegaskan, dengan rendahnya penguasaan teknologi tersebut, Indonesia menjadi sangat rentan terhadap serangan cyber.

Seperti misalnya serangan ‘Ransomware WannaCry’ pada tahun lalu. Jadi, sangat dimungkinkan akan terjadi serangan lanjutan yang lebih berdampak lebih sistemik.

Untuk itu, kata Pontjo, Indonesia perlu segera dan sangat urgen membangun kemandirian teknologi Cyber. Kemandirian ini dapat terbentuk jika Indonesia mampu melakukan perbaikan doktrin ‘Keamanan Nasional’ yang sudah ada dan menata kelembagaan dengan kerangka regulasi yang jelas.

“Dan jika dapat terbentuk kemandirian teknologi, Indonesia akan dapat menjaga keamanan diberikan dengan optimal,” tandasnya.

Ilmu pengetahuan dan teknologi sendiri, menurut Pontjo, saat ini menjadi tulang punggung pembangunan ekonomi. Teknologi menjadi faktor yang memberikan kontribusi signifikan dalam peningkatan kualitas hidup suatu bangsa. (tety)