Visions of Peace Awards Gelar Workshop Bikin Film Itu Gampang Edisi Smartphone

JAKARTA (Pos Sore) -– Visions of Peace Awards bekerjasama dengan Menara62.com menggelar Workshop dan Peluncuran Buku ‘Bikin Film Itu Gampang Edisi Smartphone’, terbitan Bhuana Ilmu Populer (BIP) dari Grup Gramedia, karya Natasha Dematra, Minggu (7/10).

Kegiatan tersebut diikuti siswa SMP, siswa SMA, mahasiswa, guru, aktivis kemanusiaan dan pekerja seni serta media.

Bikin Film Itu Gampang Edisi Smartphone adalah buku yang mengajarkan dasar-dasar pembuatan film menggunakan smartphone. Disusun dengan mekanisme dan bahasa yang sederhana, buku ini menjadi panduan mudah bagi para pemula untuk membuat film sendiri, hanya berbekal smartphone di genggaman.

“Banyak orang membayangkan untuk membuat sebuah film itu rumit, repot, dan berbiaya mahal. Properti dan alat-alat yang diperlukan pun mahal,” kata sutradara Natasha Dematra saat berbicara pada worshop pembuatan film di Kantor PP Muhammadiyah Menteng Jakarta Pusat.

Menurutnya, membuat film itu mudah. Dengan kecanggihan teknologi, Natasha mengatakan membuat film menjadi semudah foto selfie, atau membuat video-video amatiran. Kuncinya hanya pada tehnik pengambilan gambar, pemilihan tema atau cerita, ketepatan mengambil lokasi dengan cerita yang ingin disampaikan serta proses editing yang akan membuat cerita menjadi lebih hidup.

“Jangan berpikir tentang kamera film yang harganya mahal, properti dan artis yang sulit. Lakukan dengan sumber daya yang ada di sekitar kita, dengan smartphone,” jelasnya.

Ia mencontohkan, dalam hal lighting atau tata pencahayaan. Membuat film membutuhkan lampu dengan kekuatan sinar yang tinggi dan terang benderang untuk hasil film yang maksimal. Tetapi ketika masih berpatokan pada pencahayaan lampu yang mahal, maka film tidak akan pernah lahir dari tangan-tangan kita.

“Lakukan dengan sumber pencahayaan yang ada. Bisa gunakan lampu sepeda motor, mobil dan senter. Juga sumber cahaya lainnya,” tukas Natasha.

Dalam buku setebal 134 halaman tersebut Natasha memberikan panduan tentang proses pembuatan film mulai dari persiapan, penentuan obyek, pengambilan gambar hingga editing dan siap tayang. Dengan panduan yang sederhana tersebut, siapapun bisa membuat film. Obyek apapun bisa dibuat difilm dengan hasil yang memuaskan.

“Gunakan pikiran kita, jangan terfokus pada film fiksi. Kita bisa membuat film dokumenter bahkan berita. Ada banyak obyek di sekitar kita,” katanya.

Dengan terbitnya buku Membuat Film Itu Gampang Edisi Smartphone, Natasha berharap dapat menjadi sumber inpsirasi bagi generasi muda terutama yang haus akan ilmu pembuatan film.

“Buku ini saya harap menjadi jembatan generasi muda untuk menyuarakan keresahan batin mereka akan perdamaian dan toleransi yang makin surut di zaman sekarang ini. Buku ini sekaligus menandai bahwa kemajuan teknologi dapat digunakan untuk hal yang bermanfaat bagi sesama,” tegas Natasha.

Natasha Dematra sendiri, ketika berusia 11 tahun meraih rekor dunia MURI dan Royal World Records sebagai sutradara perempuan termuda di dunia untuk film panjang.

Ia juga telah menerima lebih dari 150 penghargaan internasional dan nasional dalam berbagai bidang seperti sutradara pendatang baru terbaik dari American Movie Awards, Aktris Terbaik dari Accolade Global Competition Humanitarian Award dan lain-lain.

Sementara itu, Pimpinan Redaksi Menara62.com, Imam Prihardiyoko mengatakan workshop tentang pembuatan film untuk mengedukasi generasi muda bagaimana memanfaatkan smartphone dengan baik.

“Ada banyak peluang di sekitar kita dengan kemajuan teknologi yang ada saat ini. Salah satunya adalah peluang membuat film,” jelasnya.

Dahulu, orang berpikir membuat film itu hanya bisa dilakukan oleh sutradara, produser dan artis-artis papan atas dengan properti yang mahal. Tetapi saat ini siapapun bisa terjun menjadi sutradara, produser sekaligus artis film.

“Pegang smartphone di tangan, berjalanlah, lihat sekitar dan mulailah membuat film,” katanya.

Visions of Peace Awards adalah ajang pemberian penghargaan hasil kerjasama Amerika dan Indonesia. Festival ini berfokus pada generasi muda khususnya umur 6-18 tahun.

Sementara Vision of Peace adalah lembaga yang memfasilitasi generasi muda untuk menyuarakan perdamaian toleransi melalui cara kreatif,

Demian Dematra, salah satu pendiri Visions of Peace menuturkan festival ini memiliki misi untuk menggunakan cara-cara kreatif seperti film dan cara kreatif lainnya untuk mempromosikan perdamaian dan toleransi khususnya dikalangan generasi muda.

“Bagi institusi atau sekolah yang ingin mengadakan lomba kreatif untuk perdamaian dan pelatihan pembuatan film dapat menghubungi partner kami Menara62.com,” tutup Demian. (tety)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Share this product!