Salah Persepsi Soal Susu Bahayakan Kesehatan Anak

JAKARTA (Pos Sore) — Daya konsumsi susu di kalangan masyarakat Jawa Barat masih rendah. Dari standar nasional sebesar 14 kilogram susu setiap orang selama setahun, daya konsumsi masyarakat Jawa Barat hanya separuhnya, sebesar 7 kilogram saja. Angka ini sangat jauh bila dibandingkan dengan India yang mencapai 70 kilogram setahun.

Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan Provinsi Jawa Barat, Dewi Sartika, mengatakan rendahnya daya konsumsi susu bisa berimplikasi pada kondisi tubuh terutama anak-anak di dalam masa pertumbuhan.

“Anak-anak yang kurang asupan susu bisa mengalami stunting (bertubuh pendek) di banding anak lain di usianya,” ujar Dewi pada Selasa (16/10).

Dewi melanjutkan, di Jawa Barat, sekitar 2,9% anak-anak mengalami stunting. Bila dianalogikan, satu dari tiga anak di antaranya mengalami kondisi stunting. “Kandungan gizi di susu sangat tinggi, karena ada kalsium, magnesium, vitamin B2, zat besi, potasium dan sebagainya,” ujarnya.

Sementara Kepala Bidang Peternakan dan Kesehatan Hewan pada Dinas Pertanian dan Perikanan (Distanikan) Kota Bekasi, Satia Sriwijayanti saat mengatakan, rendahnya daya konsumsi susu di kalangan masyarakat karena paradigma yang salah tentang susu.

“Tidak semua susu mengandung lemak yang tinggi dan dan mencukupi kebutuhan gizi. Susu yang kita maksud adalah susu pasteurisasi dan UHT, bukan susu kental manis karena ada kandungan gulanya,” ujar Satia.

Tak hanya di Jawa Barat, kesalahan paradigma masyarakat tentang susu juga terjadi di daerah-daerah lain di Indonesia. Di Nusa Tenggara Timur, sudah menjadi kebiasaan ibu memberikan susu kental manis untuk anak selepas masa ASI. Harga yang terjangkau serta anggapan masyarakat yang salah terhadap susu kental manis adalah pemicunya.

Direktur Kesehatan Keluarga Eni Gustina menyebutkan NTT merupakan daerah dengan ASI ekslusif tinggi, mencapai 60%. Namun, di sisi lain NTT juga menjadi wilayah dengan kasus stunting tertinggi, yaitu 40%.

“Setelah 6 bulan anaknya dilepas karena mereka sudah yakin ada susu lain yang bisa menggantikan. Persepsi masyarakat jadi salah, karena di iklan membandingkan antara susu yang benar-benar susu dengan susu kental manis,” ujar Eni.

Persoalan susu kental manis seharusnya tidak akan menjadi polemik berkepanjangan bila produsen mematuhi Surat Edaran SE BPOM tersebut bernomor HK.06.5.51.511.05.18.2000 Tahun 2018 tentang ‘Label dan Iklan pada Produk Susu kental dan Analognya. (Kategori Pangan 01.3)’.

Dalam SE yang diterbitkan pada 22 Mei tersebut, BPOM menegaskan sejumlah larangan terhadap produsen yaitu menampilkan anak-anak berusia di bawah lima tahun dalam bentuk apapun dalam label dan iklan.

Selain itu, menggunakan visualisasi bahwa produk susu kental dan analognya (Kategori Pangan 01.3) disetarakan dengan produk susu lain sebagai penambah atau pelengkap zat gizi, menggunakan visualisasi gambar susu cair dan/atau susu dalam gelas serta disajikan dengan cara diseduh untuk dikonsumsi sebagai minuman serta larangan penayangan iklan pada jam acara anak-anak. (tety)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Share this product!