PPI Gandeng KOWANI Kampanyekan Pentingnya Program Self Care

 

Kowani sosialisasi program self care (KOWANI)

JAKARTA (Pos Sore) — Pita Putih Indonesia (PPI) mengkampanyekan program self-care (perawatan kesehatan mandiri).  Program yang diadopsi dari Global White Ribbon Alliance, ini lebih memfokuskan diri pada upaya advokasi kesehatan baik di tingkat nasional maupun daerah.

Begitu pentingnya program self-care ini, PPI pun menggandeng Kongres Wanita Indonesia (KOWANI) untuk turut menyosialisikan kampnye ini. Terlebih anggota organisasi tertua dan terbesar di Indonesia ini menyebar di seluruh Tanah Air.

Program self-care ini menempatkan posisi perempuan sebagai fokus perhatian utama. Latar belakangnya antara lain karena masih tingginya angka kematian ibu melahirkan.

Data menunjukkan di dunia, setidaknya ada 830 perempuan meninggal dunia setiap harinya akibat komplikasi dalam kehamilan dan melahirkan yang sebenarnya bisa dicegah.

Selain itu, sekitar 2,7 juta anak meninggal dunia setiap tahunnya di bulan pertama kehidupan mereka. Angka ini juga berlaku bagi bayi yang lahir dalam keadaan meninggal dunia.

Bagaimana dengan di Indonesia? Ternyata, setiap 1 jam ada 2 ibu meninggal dunia yang terjadi pada saat kehamilan, persalinan maupun pasca persalinan. Jelas cukup memprihatinkan. Karenanya, perempuan berperan ikut berkontribusi mengatasi persoalan ini.

“Self-care ibarat akar pohon, yang menopang kehidupan yang ada di atasnya. Semakin kuat akar, maka semakin sehatlah pohon. Begitu pula dengan kesehatan. Semakin baik perawatan kesehatan, maka semakin sehatlah masyarakat,” kata Sunitri, Penasehat Pita Putih Indonesia.

Saat memberikan sambutan penutup pada Focus Group Discussion (FGD) bertema Self-Care dan Maternal Anemia, Rabu (24/10), Sunitri melanjutkan, PPI telah mempromosikan prinsip self-care melalui beberapa mekanisme lintas sektor.

Ia menyebutkan PPI telah bekerja dengan Kementerian Kesehatan untuk mendukung kegiatan kesehatan ibu, bayi baru lahir dan anak di daerah termasuk pendidikan berbasis masyarakat dan desa siaga.

“PPI juga bekerjasama dengan Kowani, federasi yang menaungi 96 organisasi perempuan di Indonesia untuk menyasar lebih banyak lagi kaum perempuan dalam program self care ini,” terangnya.

Dikatakan, perempuan memiliki peran penting dan strategis dalam program self-care ini. Karenanya, perempuan harus memiliki setidaknya 4 kecerdasan, yakni cerdas kodrati, cerdas tradisi, cerdas sosial dan cerdas profesi.

“Kodrat perempuan adalah menstruasi, hamil, melahirkan dan menyusui. Kodrat itu melekat hanya kepada perempuan. Tetapi di sisi lain, perempuan masih menghadapi persoalan bias gender dan berlakunya tradisi masyarakat yang menomor duakan perempuan,” lanjut Sunitri.

Mencegah anemia
Pentingnya self-care salah satunya terlihat dalam program pencegahan berbagai penyakit dan kematian ibu melahirkan melalui kasus anemia. Sebagian besar remaja perempuan ternyata tidak memiliki pemahaman yang baik terkait anemia.

Pemahaman yang kurang itu jelas sangat dikhawatirkan mengingat anemia memiliki efek panjang terhadap kesehatan perempuan dan generasi yang akan dilahirkan kelak. Ini karena anemia berdampak panjang bagi perempuan, karena akan berpengaruh pada kesehatannya, pada kehamilannya dan saat melahirkan.

“Remaja putri tahu anemia rata-rata usia SMP. Tetapi tidak tahu apa bahaya anemia itu sendiri. Bahkan mereka juga tidak tahu mengapa terjadi anemia,” papar dr Ratna Tjaja, Ketua I Pita Putih Indonesia saat memimpin FGD.

Ia menegaskan, anemia tidak hanya sekedar persoalan kadar hemoglobin darah di bawah normal. Namun, juga lebih terkait dengan asupan nutrisi yang kurang baik, cacingan, dan gangguan kesehatan lainnya yang terjadi pada perempuan.

Jika sering merasakan gejala letih, lemah dan lesu (3L) maka patut diwaspadai seseorang sudah terkena anemia. Sayangnya, sebagian besar penderita anemia tidak menyadarinya. Mereka baru sadar anemia saat dilakukan pemeriksaan darah, atau sudah berdampak pada munculnya gangguan pada kesehatannya.

“Inilah pentingnya tenaga kesehatan terutama yang berada di Puskesmas untuk lebih giat lagi mengkampanyekan bahaya anemia bagi kaum perempuan,” kata dr Ratna.

Pancho Kaslam, peserta diskusi yang mewakili Pusdiklat RSI Cempaka Putih, Jakarta, mengemukakan hal yang sama. Ia mengingatkan, anemia bisa terjadi pada siapa saja. Remaja perempuan yang memiliki nafsu makan baik sekalipun dengan gizi yang tercukupi bisa juga terkena anemia.

Karena itu, dibutuhkan perhatian yang baik dari para orangtua untuk mengenali anemia pada anak perempuannya. “Menjaga kesehatan seorang perempuan sama halnya kita menjaga satu generasi. Karena perempuanlah yang melahirkan dan menyusui generasi selanjutnya,” tandasnya.

Pendekatan self-care itu sendiri meliputi perawatan diri menangani aspek penting kesehatan, perawatan berpusat pada perempuan, serta memberdayakan perempuan, keluarga, dan masyarakat agar mampu membuat keputusan terbaik bidang kesehatan ibu-anak. Selain itu, memperkuat relasi perempuan dengan penyedia layanan kesehatan.

Sebagai organisasi nirlaba yang berdiri sejak l999, PPI telah mengkampanyekan program self-care di hadapan 1000 perempuan Indonesia pada momen Temu Nasional 1000 organisasi perempuan yang digelar Kowani di Yogyakarta September lalu. Bahkan komitmen untuk memperkuat self-care sebagai upaya mencegah kematian ibu hamil dan melahirkan mendapatkan dukungan penuh dari Presiden Joko Widodo. (tety)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Share this product!