KOPMAS Siap Kawal Kebijakan Pemerintah Wujudkan Generasi Emas 2045

JAKARTA (Pos Sore) — Bertepatan dengan semangat sumpah pemuda, sejumlah LSM dan aktivis kesehatan masyarakat mendeklarasikan berdirinya Koalisi Perlindungan Kesehatan Masyarakat (KOPMAS), di Jakarta, Minggu (28/10).

Koalisi ini terbentuk akibat keprihatinan masyarakat terhadap persoalan-persoalan kesehatan yang timbul akibat kurangnya edukasi masyarakat akan makanan bergizi, gaya hidup, serta pengaruh iklan dan promosi produk yang berpotensi menimbulkan gangguan kesehatan.

Di antara aktivis yang bergabung adalah Yuli Supriati (Perempuan Inspiratif Nova), Arif Hidayat (Yayasan Abhipraya Insan Cendekia), Aan (Relawan JKN Bekasi), Sofie (Dewan Kesehatan Rakyat), Srikandi REPDEM, Perempuan Peduli Kesehatan Jakarta Pusat, serta para penggerak Posyandu di Jabodetabek.

KOPMAS bertujuan melindungi hak kesehatan masyarakat Indonesia dari segala macam bentuk pembohongan baik secara lisan maupun tulisan serta mengusahakan terwujudnya kesehatan masyarakat Indonesia secara adil dan merata baik desa maupun kota. Salah satu misi yang saat ini sedang dikawal adalah mewujudkan generasi emas 2045.

Ketua Umum KOPMAS Arif Hidayat melihat perlindungan terhadap kesehatan anak perlu mendapat pengawasan yang ketat dari pemerintah dan unsur masyarakat. Secara umum, pemerintah telah menyusun ketentuan-ketentuan untuk melindungi kesehatan masyarakat melalui berbagai undang-undang.

“Namun masih banyak hambatan dalam penerapannya seperti edukasi yang belum optimal hingga berbagai makanan dan minuman yang tinggi kandungan gula garam lemak dikonsumsi masyarakat secara bebas dan SKM tidak boleh disajikan sebagai minuman tunggal,” tandasnya.

Mengawal kebijakan pemerintah dan mengawasi penerapannya akan menjadi tugas KOPMAS ke depannya. “Kami akan menjadi mitra pemerintah dalan mewujudkan Generasi Emas 2045,” jelas Arif Hidayat.

Persoalan susu kental manis (SKM) menjadi salah satu isu utama yang akan dikawal oleh KOPMAS. Terlebih mengingat Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) akhirnya memperkuat Surat Edaran (SE) No HK.06.5.51.511.05.18.2000 tahun 2018 tentang Label dan Iklan pada produk Susu Kental dan Analognya, menjadi Perka No 31 Tahun 2018 tentang Label Pangan Olahan.

“Ini langkah maju BPOM dalam menindaklanjuti persoalan-persoalan gizi, terutama stunting dan obesitas yang jamak terjadi di masyarakat,” tandasnya.

Yuli Supriyati, berharap ke depannya, pemerintah, produsen dan masyarakat dapat menjalin sinergi yang baik dalam rangka edukasi kebutuhan gizi keluarga untuk mencapai target Generasi Emas 2045.

“Kampanye bijak menggunakan SKM yang telah digaungkan teman-teman pemerhati kesehatan anak dalam 1 tahun terakhir ini akhirnya menghasilkan titik terang dengan respon yang baik dari pemerintah dan BPOM,” ujarnya.

Selanjutnya adalah tugas kita bersama untuk saling mengingatkan keluarga dan lingkungan sekitar serta mengedukasi masyarakat baik tentang cara penggunaan susu kental manis maupun gaya hidup dan pola makan yang sehat.

Di samping itu, produsen juga harus turut mengedukasi masyarakat dengan cara segera mematuhi peraturan BPOM, mengubah label dan tidak lagi menampilkan visualisasi anak an minuman susu dalam beriklan.

“Jangan ada lagi upaya promosi atau iklan yang menggambarkan SKM diseduh sebagai minuman susu, karena SKM bukan susu untuk diminum,” jelas Yuli Supriyat. (tety)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Share this product!