Belajar di Luar Kelas Baik untuk Tumbuh Kembang Anak

Jumat, 2 Nov 2018

TANGERANG SELATAN (Pos Sore) — Ada pemandangan berbeda di SMA Negeri Kota Tangerang Selatan, di Senin (1/11) pagi kemarin. Para siswa berkumpul di halaman sekolah, berbaur bersama para guru. Mengapa bukan di ruang kelas seperti biasanya?

Para guru menyambut siswa dengan penuh senyum. Para siswa pun membalas sapa para guru dengan penun santun. Sesama pelajar juga saling menyapa. Semua tersenyum lebar. Terlihat bahagia tanpa beban.

Tak ada kegiatan belajar mengajar seperti di ruang kelas. Mereka terlihat asyik sarapan bersama. Usai sarapan, ada yang berdiskusi mengenai berbagai hal, ada juga yang larut dalam permainan tradisional, sebagian yang lain membaca buku cerita.

Pemandangan yang tak biasa ini tak hanya di sekolah ini saja, tetapi juga di seluruh Indonesia, bahkan dunia secara serentak di hari yang sama. Kegiatan ini dinamakan Outdoor Classroom Day (OCDay) atau Hari Belajar di Luar Kelas.

Kegiatan yang digelar dalam rangka memperingati Hari Anak Internasional, itu tahun ini diikuti sekitar 347.758 siswa dari berbagai sekolah — SD, SMP, SMA dan SLB, di berbagai wilayah Indonesia.

“Belajar dan bermain adalah salah satu dari hak anak yang diharapkan dapat memberikan wawasan dan keterampilan penting dalam kehidupan, seperti daya tahan, kerja sama, dan kreativitas,” kata Deputi Bidang Tumbuh Kembang Anak,
Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPPA), Lenny N. Rosalin.

Ia mengungkapkan, OCDay di Indonesia diikuti sejak tahun 2017. Nah, pada kegiatan OCDay tahun lalu, dari 120 negara yang mengikuti kegiatan ini, Indonesia menjadi negara terbaik kedua setelah London. Penilaian dilakukan OCDay Global yang berpusat di London.

“Semoga tahun ini mendapatkan penilaian yang lebih baik lagi, setidaknya masih bisa mempertahankan posisi tahun lalu. Tahun ini jumlahnya meningkat 4 kali lipat dari tahun sebelumnya, jadi kita optimis Indonesia akan mendapatkan penilaian terbaik lagi,” tutur Lenny.

Dia menjelaskan, OCDay ini salah satu bentuk kegiatan yang mendukung Sekolah Ramah Anak (SRA), program yang digagas Kementerian Perdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPPA).

Sekolah Ramah Anak adalah sekolah yang secara sadar berupaya menjamin  dan memenuhi hak-hak anak dalam setiap aspek kehidupan secara terencana dan bertanggungjawab.

Di Indonesia, saat ini telah terdapat 11.097 Sekolah Ramah Anak (SRA) di 236 Kabupaten/Kota di 34 provinsi. SRA ini upaya mewujudkan pemenuhan hak dan perlindungan anak selama 8 jam anak berada di sekolah.

“Melalui upaya sekolah untuk menjadikan sekolah bersih, aman, ramah, indah, inklusif, sehat, asri dan nyaman. Dengan prinsip utama adalah non diskriminasi kepentingan, hak hidup serta penghargaan terhadap anak,” tandasnya.

Lenny menambahkan, kegiatan OCDay selaras dengan arahan Presiden Jokowi yang meminta sekolah untuk memperbanyak proses pembelajaran di luar kelas. Tujuannya, agar proses pembelajaran menjadi menyenangkan dan tidak membosankan. Selain itu, bisa meningkatkan kemandirian serta kreativitas anak.

Belajar di luar kelas dilakukan dengan mengintegrasikannya ke dalam proses pembelajaran dengan mengusung berbagai tema, di antaranya climate change (adaptasi perubahan iklim), perilaku hidup bersih dan sehat, sarapan sehat setiap hari, pendidikan karakter, cinta tanah air, serta pelestarian permainan tradisional.

Menurut Lenny, kegiatan ini dilaksanakan dalam waktu kurang lebih 90 menit dengan beragam kegiatan. Pembelajaran di luar kelas untuk membuat anak tidak jenuh, menumbuhkan kreativitas, menggalakkan olahraga tradisional dan permainan tradisional. Kegiatan ini bisa diikuti oleh semua satuan pendidikan.

“Dengan belajar di luar kelas diharapkan mampu meningkatkan kesehatan anak, melibatkan anak dalam pembelajaran, mengajak anak turut melestarikan permainan tradisional, serta mendorong keterikatan anak dengan alam,” tegasnya.

Menurutnya, belajar di luar kelas sangat dibutuhkan untuk menunjang proses belajar ramah anak. Dengan demikian diharapkan kesehatan mental dan fisik anak-anak semakin baik. Mereka juga semakin banyak melakukan aktivitas yang tentunya baik untuk tumbuh kembangnya.

“Sekolah Ramah Anak ini juga sudah luar biasa membantu menciptakan suasana belajar yang membangun karakter positif anak yang penuh persaudaraan dan keakraban,” jelasnya.

Belajar di Luar Kelas sendiri merupakan Kampanye Global untuk menginspirasi aktivitas belajar dan bermain di luar kelas, minimal 90 menit setiap hari. Karenanya, pihaknya menghimbau agar seluruh SRA yang ada di Indonesia dapat mengikuti kegiatan ini dan dilakukan minimal 2,5 jam oleh setiap sekolah.

“Saya juga berharap ke depan, tiap tahunnya semakin banyak sekolah yang mengadopsi dan tidak hanya dilakukan sekali setahun, tapi bisa satu bulan sekali, atau bahkan satu minggu sekali dengan diisi beragam inovasi kegiatan. Sehingga mampu mencegah anak-anak melakukan hal-hal negatif, seperti buliying,” kata Lenny. (tety)