Saat ATGH Meningkat, Kondisi Ketahanan Nasional Indonesia Kurang Tangguh

Selasa, 6 Nov 2018

JAKARTA (Pos Sore) — Berdasarkan hasil pengukuran kondisi ketahanan nasional yang dilakukan Laboratorium Pengukuran Ketahanan Nasional Lemhanas 2016, indeks ketahanan nasional Indonesia berada pada angka 2,6 dari rentang 1-5.

Artinya, kondisi ketahanan nasional Indonesia dalam posisi kurang tangguh. Dalam jangka pendek negara masih dapat bertahan dari tantangan, ancaman, hambatan, gangguan.

“Namun apabila tidak diperbaiki maka dalam jangka panjang stabilitas nasional bisa goyah, terlebih ATGH bersifat dinamis, dan terus meningkat,” tegas Pontjo Sutowo, Ketua Aliansi Kebangsaan, di sela Diskusi Panel Serial ke-17 bertema Menggalang Ketahanan Nasional untuk Menjamin Kelangsungan Hidup Bangsa, Sabtu (3/11).

Dalam diskusi panel kali ini menampilkan pembicara Dr. Bambang Pharma Setiawan, Mayjend TNI (Purn) I Dewa Putu Rai, Prof. Dr. Bambang Wibawarta, Laksda TNI (Purn) Dr. Yani Antariksa dan Achmad Chodjim.

Karenanya, Pontjo yang juga Ketua Pembina Yayasan Suluh Nuswantara Bhakti (YNSB), mengingatkan, meskipun negara memiliki pemimpin yang bagus, pertumbuhan ekonomi yang baik, jika warga negaranya tidak sanggup menjawab tantangan, maka bangsa tersebut bisa mati atau punah.

Banyak negara-negara di Eropa Timur yang dulu ada sekarang lenyap. Atau Uni Soviet, yang sekarang juga sudah tidak ada. Hidup matinya satu bangsa bergantung penuh pada peran warga negaranya.

“Lihat Palestina, dengan kondisi ekonomi yang kurang baik dan tentaranya terus menerus digempur, tapi hingga sekarang negara tersebut tetap eksis,” katanya

Ia menilai, umur suatu bangsa tergantung pada sikap warga negaranya. Apakah sanggup menjawab tantangan yang dihadapi atau tidak. Peran warga negara bahkan jauh lebih dominan dibanding keberadaan pemimpin.

Pontjo mengakui konsep ketahanan nasional jaman dahulu dengan sekarang berbeda. Bentuk ancaman, tantangan, hambatan dan gangguan (ATHG) yang dihadapi oleh negara terus juga berkembang dinamis, terutama dengan meningkatnya kemajuan teknologi informasi.

“Kita menyadari ancaman terhadap bangsa dan negara semakin kompleks dengan spektrum yang makin meluas meliputi bidang militer, ideologi, politik, ekonomi dan budaya,” katanya.

Sementara itu, Iman Sunario, Ketua Penyelenggara DPS mengatakan, ketahanan nasional saat ini bukan lagi tugas atau monopoli angkatan bersenjata semata. Melainkan juga menjadi urusan semua rakyat.

Ia mengingatkan saat ini proxy war banyak menyasar masyarakat. Demikian juga kejahatan siber, 89 persen justeru menghajar bidang bisnis, bidang yang masyarakat luas terlibat banyak.

“Jadi yang disasar siber itu bukan pemerintah, bukan diplomatiknya, bukan pula angkatan bersenjatanya. Tetapi bisnis, karena ini adalah bidang yang sangat vital  yang menjadi penggerak bangsa,” lanjutnya.

Karena itu, semua pihak harus menciptakan kesadaran bersama, harus menciptakan rasa kebangsaan. Pengaruh buruk dari globalisasi hanya akan bisa dinetralkan dengan kebangsaan. (tety)