UKM Ikut Terdampak Gejolak Ekonomi Dunia

Kamis, 8 Nov 2018

JAKARTA (Pos Sore) — Gejolak ekonomi dunia masih saja bergejolak. Lantas, bagaimana proyeksi perekonomian Indonesia di tahun depan, 2019? Bagaimana pula tantangan dan peluang bagi koperasi dan UKM di tahun itu?

Business Developtment and Sales Officer Du’anyam Juan Firmansyah, mengatakan, dampak gejolak ekonomi global dirasakannya secara langsung. Harga bahan baku dari vendor dan mitra kerja, seperti kulit impor, sempat mengalami peningkatan seiring dengan penguatan nilai tukar rupiah terhadap dolar beberapa waktu belakangan.

Bahan baku itu digunakan sebagai komplementer untuk membuat produk jadi berupa anyaman. Dengan peningkatan harga dari vendor, pihaknya juga harus melakukan perubahan harga terhadap klien.

“Meski kenaikkan harga per produk tidak sampai 10 persen, apabila diakumulasi, kenaikkan tetap terasa berat. Mau tidak mau, kami coba komunikasikan dengan klien. Untungnya, mereka paham,” ujarnya saat menjadi pembicara dalam Diskusi Panel Proyeksi Perekonomian 2019, Peluang dan Tantangan Bagi KUKM’, di Kementerian Koperasi dan UKM, Jakarta, Rabu (7/11).

Bagaimana dari segi corporate? Corporate Secretary and Chief Economist BNI Ryan Kiryanto, mengungkapkan, bila kondisi ekonomi dunia sedikit melemah, maka, dampak pertama dirasakan oleh korporasi skala besar. Lalu berdampak pada korporasi segmen menengah. Kelas UMKM juga berpotensi terkena efek domino kondisi tersebut.

“Kondisi ini berbeda dengan krisis moneter pada 1998. Saat itu, UKM relatif tidak terkena dampak gejolak ekonomi global karena belum banyak pelaku usaha yang bersentuhan dengan nilai tukar dan hampir tidak ada UKM yang melakukan pinjaman dalam valuta asing,” terangnya.

Sementara itu, pada 2018, sudah banyak UKM yang meminjam dalam valas, sehingga mudah terdampak. Meski demikian, menurutnya, pelaku UKM tidak akan terbawa dampak gejolak ekonomi global terlalu dalam.

“Pengusaha Indonesia terbilang berpengalaman dalam menghadapi dinamika ekonomi. Kita sudah belajar dengan kejadian-kejadian kemarin. Ini yang menyebabkan pemerintah optimistis pertumbuhan ekonomi dapat berada di atas 5 persen,” katanya.

Selain itu, lanjutnya, daya beli masyarakat Indonesia juga terpantau masih terjaga baik. Kondisi ini terlihat dari tingkat konsumsi rumah tangga pada kuartal III tahun ini yang mencapai sekitar 5,01 persen. Sementara itu, sebelumnya lebih tinggi, yakni menyentuh 5,14 persen di kuartal II.

Di sisi lain, stabilitas daya beli masyarakat juga membaik. Tren transaksi masyarakat menggunakan instrumen ritel sistem pembayaran (ATM, debit, kartu kredit dan uang elektronik) kian meningkat.

Per Agustus 2018, transaksi ini tumbuh 9,4 persen year on year yang didominasi instrumen ATM-debit dengan pertumbuhan 9,1 persen year on year. (tety)