Etos Kerja Dan Kebersamaan Adalah Warisan Terbaik Pemimpin

Etos kerja (Ilustrasi)

WARISAN seorang Pemimpin kepada anak buah adalah Bagaimana Anak Buah Bisa Bekerja Dengan Baik Sepeninggal Sang Pemimpin memasuki masa Purna Bhakti.

Kepemimpinan dalam Ensiklopedi Umum, halaman 549 menyebutkan kata kepemimpinan ditafsirkan sebagai hubungan yang erat antara seorang dan sekelompok manusia karena adanya kepentingan bersama; hubungan itu ditandai oleh tingkah laku yang tertuju dan terbimbing dari Sang Pemimpin,

Kepemimpinan juga dapat didefinisikan sebagai suatu perilaku dengan tujuan tertentu untuk mempengaruhi aktivitas para anggota kelompok, untuk mencapai tujuan bersama yang dirancang untuk memberikan manfaat individu dan organisasi.

Berdasarkan definisi-definisi tersebut, maka kepemimpinan memiliki beberapa implikasi. Antara lain, melibatkan orang atau pihak lain yasng dalam hal ini adalah karyawan atau bawahan (followers) di mana para karyawan atau bawahan dituntut harus memiliki kemauan untuk menerima arahan dari pemimpin.

Kepemimpinan juga dapat didefinisikan sebagai suatu perilaku dengan tujuan tertentu untuk mempengaruhi aktivitas para anggota kelompok, untuk mencapai tujuan bersama yang dirancang untuk memberikan manfaat individu dan organisasi.

Pemimpin yang ideal adalah pemimpin yang mampu membawa misi kelompoknya ke arah yang baik dan tetap teguh merangkul semua anggota kelompok.

Hal inilah yang berupaya ditularkan oleh Kepala Biro Umum Kementerian Ketenagakerjaan (Karo Umum Kemnaker), Sumarno S.Pd, MM, kepada segenap anak buahnya di penghujung masa bhaktinya sebagai abdi negara di lingkungan kementerian itu. Sumarno selalu berupaya untuk menjadi orang yang terkahir meninggalkan kantor setelah seharian bekerja dan orang pertama yang menginjakkan kakinya di kantor setiap hari. Meskipun terkadang usaha itu serimg tersandung tugas lain yang harus dikerjakan di luar kantor.

Yang bisa dipetik dari perbincangan antara Possore.com dengan Sumarno yang tinggal beberapa bulan lagi menjadi Aparatur Sipil Negara (ASN) tersirat bahwa figur pemimpin yang satu ini pada tahap awal kepemimpinannya mencoba meneliti menularkan watak yang melekat pada diri seorang pemimpin, seperti kecerdasan, kejujuran, kematangan, ketegasan, kecakapan berbicara, kesupelan dalam bergaul dengan selalu melandaskan semua itu pada kapasitas, prestasi, tanggung jawab, partisipasi dan status.

Sumarno mengatakan mencoba mengurai sebuah teori yang dikemukakan Hoy dan Miskel (1987) bahwa terdapat empat faktor yang mempengaruhi kinerja seorang pemimpin, yaitu sifat struktural organisasi (structural properties of the organisation), iklim atau lingkungan organisasi (organisational climate), karakteristik tugas atau peran (role characteristics) dan karakteristik bawahan (subordinate characteristics).

Semua itu dilakukan guna mencapai tujuan bersama dalam melaksanakan tugas-tugas harian dwngan tidak mengenyampingkan improvisasi bawahannya dalam menyelesaikan suatu persoalan sebagai akibat dari pekerjaan yang dilaksanakan. Sebab bagi Sumarno model pemimpim yang efektif (Effective Leader) adalah mampu memberikan mendefinisikan dan menyusun interaksi kelompok dalam rangka pencapaian tujuan organisasi serta sampai sejauh mana para pemimpin mengorganisasikan kegiatan-kegiatan kelompok mereka.

Sebab baginya menciptaan hubungan antara pemimpin dan bawahan (leader-member relationship) bisa menjadi sangat baik jika pemimpin bisa menjaga marwah dari kelompoknya, dipercaya dan disukai oleh bawahan dan bagaimana agar kemauan bawahan mau mengikuti petunjuk pemimpin.

Dan yang terpenting, manurut Sumarno, adalah sejauh mana kekuatan atau kekuasaan yang dimiliki oleh pemimpin sanggup menanamkan rasa memiliki akan arti pentingnya tugas setiap bawahan. Termasuk dalam menggunakan otoritasnya dalam memberikan hukuman dan penghargaan, promosi dan penurunan pangkat (demotions).

Dalam kesehari-harian Sumarno lebih banyak berada di tengah anak buahnya ketimbang di ruangan pribadi yang sejuk dan tenang. Bahkan terkadang dengan ditemani berapa orang anak buahnya dia melakukan inspeksi ke proyek-proyek yang dibangun di gedung Kementerian Ketenagakerjaan bahkan sampai ke luar negeri untuk memantau asset-asset negara di sana.

Sebab baginya pelayanan publik yang baik di mana masyarakat mendapatkan kepuasan dari pelayanan tersebut merupakan kata kunci dan tantangan birokrasi. Dewasa ini, birokrasi berhadapan dengan mekanisme pasar yang bersifat terbuka. Fenomena ini merupakan tuntutan jaman dalam era persaingan bebas.

Seorang pemimpin seperti Sumarno adalah individu dengan jiwa yang terlatih dan mampu melatih individu-individu lain untuk mewujudkan visi yang bersifat seragam. Dia dituntut harus mampu melibatkan diri dalam unsur keberagaman sifat anggota yang menjadi tanggung jawabnya.

Kecerdasan adalah titik tentu yang idealnya harus dimiliki oleh seorang pemimpin. Ideal adalah pemimpin harus cerdas dalam membawa diri yang didukung dengan keunggulan berfikir dan peka terhadap hal-hal sekitar. Dalam menjalankan tugasnya, seorang pemimpin yang ideal akan mampu berfikir luwes dan memiliki ide-ide segar untuk keberlangsungan kepentingan kelompoknya. Semua itu ada di figur Sumarno.

Tidak hanya cerdas, diapun berani berinisiatif jika dihadapkan dengan suatu masalah. Karena dia meyakini Inisiatifme diri sangat dibutuhkan oleh seorang pemimpin demi terciptanya solusi yang bersifat nyata dan menjanjikan.

Pemimpin yang berinisiatif adalah pemimpin yang mampu menggerakkan dirinya sendiri terlebih dahulu untuk memulai segala sesuatunya tanpa adanya paksaan. (sim)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Share this product!