Pemimpin Nasional Harus Lepas dari Kebijakan Parpol

 

JAKARTA (Pos Sore) — Aliansi Kebangsaan mengundang Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) dalam diskusi dengan media. Partai yang identik dengan Islam ini dimintai pandangannya tentang kepemimpinan nasional.

Ketua Aliansi Kebangsaan Pontjo Sutowo, menilai meski pemimpin nasional umumnya dari kalangan partai politik, namun kepentingan rakyat harus dijunjung tinggi di atas kepentingan partai.

Ia menegaskan, pemimpin nasional harus lepas dari kebijakan parpol mengingat sosoknya sudah menjadi pemimpin semua golongan dan partai politik serta siap mengelola dan memimpin negeri ini.

“Karena orang partai politik, seorang pemimpin nasional pandangan dan pemikirannya acapkali diwarnai dengan kebijakan partai politik yang mengusungnya. Itu sebabnya, kami perlu mengundang para pemimpin partai untuk menjelaskan seperti apa konsep kepemimpinan versi parpol,” katanya, Jumat (9/11), di Jakarta.

Wasekjen PKB Abdul Malik Haramain yang menjadi narasumber dalam diskusi itu, menjelaskan PKB pendiriannya diinisiasi oleh para kyai dan ulama. Karena itu, ideologi partai ini bersumber pada Al Qur’an dan Hadist, ditambah Ijtima (musyawarah ulama) dan kiyas.

“Ulama dan kyai merupakan pendiri PKB. Itu mengapa partai ini kaya akan kaidah fiqih. Bahkan hal-hal baik bisa dijadikan hukum,” jelas Abdul Malik dalam diskusi yang juga menghadirkan pengamat politik Yudi Latief dan Laode Komaruddin.

Soal paham bela negara, misalnya. Dalam pandangan kyai, membela negara adalah bagian dari iman. Pandangan ini tentu tidak secara implisit disebutkan dalam Al Qur’an maupun hadis, tetapi harus dianut oleh orang Islam.

Membela negara, lanjutnya, menjadi kewajiban semua umat. Agama tidak akan berjalan dengan baik jika negara hancur. Sehingga negara yang aman harus diperjuangkan untuk kehidupan beragama yang baik.

Karena itu, paham membela negara menjadi bagian dari iman dipegang teguh oleh PKB dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Dalam pandangan PKB, NKRI adalah harga mati, tidak ada pihak manapun yang boleh memporakporandakan dan mengotak-atik NKRI.

“Perpecahan antar penduduknya hanya akan membuat sebuah negara hancur lalu punah, seperti beberapa negara dikawasan Eropa Timur,” tuturnya.

Menurutnya, berdiri tegaknya NKRI hingga sekarang tak lain karena Pancasila yang sakti. Dengan Pancasila, Indonesia yang wilayahnya sangat luas, beragam suku bangsa, agama dan budaya bisa bersatu dalam bingkai negara kesatuan Republik Indonesia.

“Tidak ada negara di dunia ini yang bisa bertahan hingga puluhan tahun dengan keragaman yang sangat kompleks seperti Indonesia,” tandasnya.

Meski PKB dibentuk oleh ulama dan identik sebagai partai Islam, tetapi beberapa pengurusnya terutama di kawasan Indonesia Timur, ada yang beragama protestan. Hal ini terjadi karena PKB menghormati dan menjunjung tinggi keberagaman.

Ia berharap di tengah situasi politik yang makin meningkat tensinya menjelang tahun politik, masyarakat masih tetap bisa berpikir rasional dan masuk akal untuk tetap mempertahankan NKRI secara bersama-sama.

“Selama elit politik, ulama, tokoh dan negarawannya masih bersepakat untuk berpegang pada Pancsila, tentu kita yakin Indonesia akan selamat,” tutupnya. (tety)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Share this product!