21.6 C
New York
18/09/2021
Aktual Memorie

Gus Dur Angkat Menteri Berdasar Pilihan Sendiri, Bukan Ditodong

SEMBILAN tahun lalu, 30 Desember 2009, KH.Abdurahman Wahid  alias Gus Dur meninggalkan dunia yang fana ini. Banyak kenangan terhadap tokoh kontroversial itu. Salah satunya, ketegasan  dalam bersikap.”Saya takjub, Gus Dur mengangkat beberapa menterinya berdasar pilihan sendiri, bukan ditodong,” kata Mahfud MD, tokoh yang pernah mengundang simpati banyak rakyat Indonesia karena tiba tiba ”batal” jadi Cawapres mendampingi Jokowi. Berikut petikan kenangan Mahfud MD yang dikutip melalui akun twitternya.

Possore.com — Sembilan tahun yang lalu, 30 Desember 2009, Gus Dur wafat, saya sedang ada meeting kecil dgn KH Hasyim Muzadi, Cak Choirul Anam, dan lainnya di rumah dinas saya sebagai Ketua Mahkamah Konstitusi. Ketika berita (wafat) itu, tiba-tiba kami terdiam membisu agak lama. Tiba-tiba KH Hasyim berseru, “Alfatihah”.

Kami pun membubarkan diri dan secara sendiri-sendiri berangkat ke RSCM. Pintu masuk ke RSM penuh sesak, tapi karena saya ketua MK, dibimbing masuk oleh aparat. Orang-orang histeris berteriak “Gus Dur, Gus DuuuR”.

Di sebuah ruang yang berdesakan, saya melihat Effendi Choiri (mantan anggota DPR dari Fraksi PKB-red) memimpin tahlil sambil menangis.Saya mendekati janazah Gus Dur dan berdoa, tapi saya segera keluar karena banyak orang yang antre.

Saya tidak menangis. Sebagai Ketua MK saya ingin terlihat tegar dan tabah. Saya hanya berdoa. Tapi begitu tiba di luar ruangan, ajudan saya memberikan berlembar tisue, meminta saya menghapus airmata. Saya ternyata menangis.

Saya teringat ketika saya dipanggil Presiden Gus Dur. Semula saya tak yakin beliau kenal dengan saya, meski saya mengenal beliau. Semula sy kira akan diangkat jadi dirjen atau yg setingkat itu. Tapi (ternyata) beliau meminta saya menjadi menteri pertahanan. Woow,Menteri pertanahan?. “Bukan, menteri pertahanan,” begitu ditegaskan Gus Dur ketika itu.

“Antum saya angkat menjadi menteri pertahanan, bukan pertanahan”, kata Gus Dur serius.

Waktu itu saya ditemani oleh Alwi Shihab. Saya takjub, Gus Dur mengangkat beberapa menterinya berdasar pilihan sendiri, bukan ditodong. Saya yang bukan siapa siapa, bukan politisi, hanya dosen, tiba-tiba diangkat jadi menteri.

Dalam pengamatan saya Gus Dur ingin menteri menteri yang idealis dan tegas. Pesannya, “Bereskan persoalan negara ini”.

Contohnya, ketika mengangkat Rizal Ramli atau Marsillam Simanjuntak (ketika itu) saya melihat keduanya professional dan tegas. Marsillam sangat loyal dan cermat dalam menata administrasi, Rizal Ramli juga.

Saat Rizal Ramli menjadi menteri, pejabat-pejabat setingkat menteri diberi DOP (dana operasional pimpinan) yang besar agar tdk mempermainkan uang negara. Rizal tahu seorang menteri itu harus mengeluarkan “ini-itu” padahal gajinya kecil. “Jangan korupsi, pakai uang ini, kalau korupsi saya sikat”, katanya.(Bagian Pertama dari Dua Tulisan)

Related posts

Dirut LPDB-KUMKM Yakin 2018 Dana Bergulir Bebas dari Koperasi Abal-Abal

Tety Polmasari

Menkop Bangga Kisel Masuk 100 Koperasi Terbesar Dunia

Tety Polmasari

3600 Pasukan Gabungan Amankan Pernikahan Putra Jokowi

Tety Polmasari

Leave a Comment