10.8 C
New York
12/05/2021
Aktual

Kewirausahaan Baru Bagi Kalangan Media Massa

JAKARTA (Pos Sore) — Kewirausahaan Baru Bagi Kalangan Media Massa. Begitu judul diskusi yang dihadiri kalangan jurnalis yang beberapa di antaranya memiliki usaha sendiri. Diskusi yang berlangsung di Pressroom Kementerian Koperasi dan UKM, Kamis (25/4), ini cukup menarik untuk diikuti.

Ya, mengapa tidak, seorang jurnalis juga menjadi seorang enterpreneur? Di jaman serba canggih ini, di saat promosi dan penjualan tak lagi mengandalkan pertemuan fisik, seorang jurnalis yang enterpreneur masih bisa membagi waktu di antara dua pekerjaan yang digeluti.

“Kewirausahaan itu konteksnya adalah jiwa, semangat dan kreatifitas. Bidang usaha ini jelas unlimited, tidak terbatas, saya yakin teman-teman media punya kretifitas lain di samping punya tuntutan membuat berita dan waktu yang terbatas,” kata Asdep SDM Kemenkop UKM Bidang Pengembangan Kewirausahaan, Budi Mustopo.

Ia pun menyarankan, wartawan yang sudah membentuk suatu badan koperasi hendaknya menjadikan koperasi sebagai laboratorium untuk berwirausaha, sehingga akan menambah kesejahteraan bagi wartawan itu sendiri.

Budi menambahkan, bila suatu usaha ditekuni akan menjadi cikal bakal bisnis koperasi sehingga dapat menghasilkan dampak ekonomi bagi anggotanya. Terlebih ekosistim kewirausahaan juga sangat mendukung seperti deregulasi, SDM, aspek modal dan penunjang lain.

“Tinggal kembali pada diri kita mau atau berani tidak berwirausaha. Pemerintah terus berusaha menumbuhkembangkan kewirausahaan di Indonesia. Karena dengan pertumbuhan kewirausahaan akan banyak menciptakan lapangan pekerjaan dan dapat meningkatkan kesejahteraan bagi masyarakat,” ujarnya.

Ia menegaskan, sektor UMKM adalah menjadi tulang punggung bagi ketahanan ekonomi nasional di saat krisis moneter. Yang juga menyumbang 60 persen lebih PDB dan menyerap tenaga kerja 90 persen.

Pada acara yang sama CEO Rubelon.com dan pakar IT, Syarif Hidayat, mengatakan berkembangnya teknologi digital yang demikian cepatnya menjadi peluang bisnis bagi banyak pihak untuk menciptakan tren bisnis-bisnis baru.

“Perubahan dan perkembangan teknologi yang sangat cepat ini, selain bagi para pebisnis, para penggunapun harus bisa menyikapi perubahan tersebut dengan sangat cepat,” kata Syarif.

Dikatakannya, respons industri ke arah dunia digital banyak yang harus dilalui, mulai dengan munculnya para pemanfaatan internet, penyampaian informasi, usaha berbasis online, startup digital berbasis aplikasi, hingga munculnya para raksasa unicorn.

“Seperti Bukalapak.com, perbulan dapat menghasilkan Rp 1 Triliun dengan transaksi perhari mencapai 150 ribu dan 1,7 juta pengunjung,” kata dia.

Sementara itu, Selly Hadiyanti dari Rumah Kreatif Bekasi (RKB) dalam kesempatan tersebut menguraikan konsep Atention, Interest, Desire dan Action (AIDA) yang harus tertanam di-mindset para pelaku usaha. Ini adalah konsep dasar di dalam penjualan yang pertama kali ditemukan oleh seseorang berkebangsaan Amerika.

Atention dalam konsep AIDA itu adalah menarik perhatian. Artinya, para penjual dituntut untuk mencari kelebihan dari produk yang dijualnya agar menarik di mata konsumen. Kemasan juga menjadi salah satu faktor untuk menarik minat konsumen, seperti kemasan yang unik serta gambarnya yang lucu, itu masuk bagian dari attention.

Sedangkan Interest, kata Selly, adalah cara agar konsumen tertarik dengan produk yang ditawarkan penjual. Dalam hal ini, informasi-informasi seperti pemilik, nama perusahaan produk harus dicantumkan pada kemasan. Manfaat dan keunggulan tentang produk yang ditawarkan juga harus disertakan di dalam kemasan.

“Lalu, kita melangkah ke Desire, yaitu ingin tahu. Kita sebagai sebagai penjual harus tahu bagaimana caranya biar pembeli jadi ingin membeli, oleh karena itu harus dijelaskan keunggulan dan manfaat produk tersebut ,” tambahnya.

Dan yang terakhir adalah Action, dalam hal ini penjual diharuskan untuk menerapkan semua yang ada pada poin-poin sebelumnya. Dan apabila belum berhasil, maka dipastikan ada yang salah saat menerapkan konsep AIDA tersebut.

“Bila Konsumen tertarik tapi tidak jadimembeli. Berarti ada yang salah dengan konsep AIDA itu. Kita harus evaluasi dari konsep AIDA tersebut yang merupakan konsep dari penjualan,” ujarnya. (tety)

Related posts

The most up-to-date Steel News Reviews From China

Tety Polmasari

Tertimpa Besi Rusun, Ibu Rumahtangga Terluka

Tety Polmasari

Program Pemagangan Beri Kesempatan Tingkatkan Kompetensi

Tety Polmasari

Leave a Comment