Penuh Konflik Politik, Giwo Rubianto: Bagaimana Pemberdayaan Perempuan di Ukraina?

JAKARTA (Pos Sore) — Ketua Umum Kongres Wanita Indonesia (KOWANI) Giwo Rubianto Wiyogo diundang untuk menghadiri pertemuan ECICW General Assembly, Kyiv and Chernihiv, Ukraina, pada 19-24 Mei. Giwo hadir dalam pertemuan the European Center of the International Council of Women (ECICW) itu sebagai Vice President ICW untuk Kawasan Asia Pasifik.

Meski dirinya bertanggung jawab membawahi wilayah Asia Pasifik, namun ia merasa perlu mengetahui kondisi pemberdayaan perempuan di Ukraina yang menjadi bagian negara Eropa. Sebagai negara yang sudah melepaskan diri dari Uni Soviet, Giwo ingin mengetahui lebih jauh bagaimana pemerintahan Ukraina memperhatikan pemberdayaan perempuan.

“Masa peperangan di Ukraina dengan Rusia tentu menyimpan trauma bagi masyarakatnya, tidak terkecuali perempuan dan anak-anak. Nah, apa saja yang sudah diupayakan oleh pemerintahan Ukraina,” kata Giwo, di Jakarta, sebelum keberangkatannya ke Ukraina, Rabu (16/5).

Dalam pertemuan itu, pihak ECICW akan memaparkan bagaimana tenaga kerja wanita di Ukraina menyelesaikan gejolak politik selama satu abad terakhir ini. Gejolak politik yang cukup panjang dan intensif. Bagaimana para perempuan melepaskan diri dari siksaan yang diciptakan oleh perang dan revolusi.

“Bagaimana para perempuan bertahan hidup untuk memperbaiki kerusakan demi masyarakat dan keluarga,” jelas Giwo seraya menambahkan, jika dipandang perlu ia akan mengadopsi upaya terbaik yang dilakukan Ukraina untuk diterapkan di Asia Pasifik dan Kowani, tentu saja.

Giwo Rubianto Wiyogo terpilih menjadi Vice President ICW untuk regional Asia Pasifik secara aklamasi dalam pertemuan Sidang Umum ke-35 ICW di Yogyakarta pada 11-20 September 2018. 2018. Pertemuan yang diselenggarakan oleh Kongres Wanita Indonesia (Kowani).

Saat itu, para anggota ICW memilih 5 Vice President baru dari 7 kandidat yang telah mengajukan diri dan memberikan pidatonya. Dan, Giwo pun terpilih sebagai Vice President ICW untuk membidangi penanganan persoalan perempuan di Kawasan Asia Pasifik.

Menurutnya, masalah kesetaraan gender di Asia Pasifik menjadi fokus utama bidang tugasnya karena di Asia Pasifik persoalan ketimpangan gender masih cukup tinggi. Pemecahan persoalan kesetaraan gender di Asia Pasifik, sekaligus menjadi salah satu upaya demi tercapainya Sustainable Development Goals (SDGs) pada 2035.

Persoalan kesetaraan gender yang masih harus diperjuangkan, kata dia, di antaranya berkaitan dengan kesehatan perempuan, utamanya yang telah memasuki masa lansia, angka kematian ibu hamil dan melahirkan yang masih tinggi, hingga pernikahan dini.

Dalam menjalankan tugasnya tersebut, dirinya akan mengaktifkan seluruh anggota organisasi perempuan di seluruh kawasan Asia Pasifik untuk bersinergi memperjuangkan kesetaraan gender dalam berbagai lini.

Terpilihnya Giwo juga mencerminkan bahwa Kowani yang menaungi 92 organisasi perempuan Indonesia dan secara total beranggotakan sekitar 62 juta perempuan Indonesia, dapat diterima dengan sangat baik untuk menjadi pimpinan ICW.

Posisi strategis Giwo di ICW itu sekaligus memastikan bahwa Indonesia selalu berada dalam pergaulan dan interaksi di dunia internasional.

Bagi Giwo yang selalu concern pada pemberdayaan perempuan dan anak, ICW telah membuka ruang bagi perempuan dari seluruh dunia untuk saling bertukar informasi mengenai isu-isu yang dihadapi masing-masing negara, serta solusi dan ide yang dapat diterapkan.

“Dengan demikian, kaum perempuan dapat terus bahu membahu dan saling membantu satu sama lain untuk mencapai kesejahteraan yang adil dan merata di seluruh penjuru dunia,” tuturnya.

Giwo yang pernah menjabat Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), ini mengatakan sejak kecil, ia memiliki keinginan untuk mewujudkan kesejahteraan yang adil dan merata bagi perempuan. Karena itu, ia mendedikasikan hidupnya untuk terus mengupayakan pencapaian kesejahteraan bagi kaum perempuan, tanpa memperdulikan perbedaan yang ada.

“Saya sangat percaya akan nilai-nilai yang dijunjung oleh ICW dan saya ingin mendedikasikan waktu, sumber daya, serta energi saya untuk terus memperjuangkan gerakan ini,” ungkapnya.

Giwo sebelumnya di ICW menjabat Koordinator Komite Tetap Bidang Komunikasi, bersama dengan pengurus Kowani lainnya, Uli Silalahi yang menjabat Koordinator Komite Tetap Bidang Pembangunan Berkelanjutan.

Ia menjadi perempuan Indonesia yang masuk dalam jajaran pimpinan ICW, setelah Kuraisin Sumhadi yang pernah menjadi Presiden ICW periode 1994-1997.

International Council of Women (ICW) sendiri adalah perkumpulan tokoh perempuan dunia yang berafiliasi ke Perserikatan Bangsa-Bangsa. Didirikan pada 1888 di Washington DC dan Kowani menjadi anggota ICW pada 1973. (tety)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Share this product!