31 Pelajar Indonesia Terpilih untuk Studi ke Belanda

JAKARTA (Pos Sore) — Sebanyak 31 pelajar Indonesia terpilih untuk mengikuti studi di Belanda. Wajah-wajah mereka terlihat penuh semangat, berkumpul dalam suatu sesi Welcoming Session StuNed Master Awardees 2019.

Para penerima Beasiswa StuNed ini disambut khusus, Sabtu (19/5). Selain untuk memberikan ucapan selamat, mereka juga mendapatkan arahan bagaimana tinggal dan beradaptasi di Belanda.

Mereka terpilih setelah melewati serangkaian tahapan seleksi yang sangat ketat, juga nyatanya datang dengan latar belakang yang sungguh sangat beragam.

Suasana penuh warna ini juga menandai betapa beragamnya Indonesia yang kemudian dapat disatukan dengan tekad untuk memberi yang terbaik bagi negeri.
Muda dan berkarakter entrepreneurial. Begitulah gambaran umum profil pelamar beasiswa StuNed Master tahun ini.

Para awardees disambut hangat Direktur Nuffic Neso Indonesia Peter van Tuijl, didampingi Staf Penasihat Bagian Politik Kedutaan Belanda di Jakarta Roy Spijkerboer, Koordinator Tim Beasiswa Indy Hardono, dan Ketua Ikatan Alumni StuNed (I Am StuNed) Immanuel Hutasoit.

“Belanda masih menjadi tujuan bagi pelajar Indonesia untuk menimba ilmu di beberapa bidang “klasik” seperti hukum, pertanian, dan teknik sipil, terutama yang berhubungan dengan pengelolaan air dan pembangunan infrastruktur,” kata Peter van Tuijl.

Peter mengungkapkan, mendapatkan beasiswa StuNed dan bersekolah di Belanda, bisa jadi ini salah satu mimpi 31 pelajar tersebut yang akan segera menjadi kenyataan dalam mengambil peran aktif untuk membangun Indonesia.

Ia juga menekankan kepada para awardees, di era interdisciplinary ilmu pengetahuan adalah suatu keniscayaan, untuk selalu berkolaborasi agar memberikan dampak yang lebih berarti bagi masyarakat.

Welcoming session tersebut pada intinya diperuntukkan sebagai sesi di mana para awardees menerima, serta menandatangani StuNed Scholarship Award Letter, yang diserahkan langsung oleh Peter van Tuijl selaku Direktur Nuffic Neso Indonesia, dan disaksikan oleh perwakilan Kedutaan Belanda, Roy Spijkerboer.

Para penerima beasiswa StuNed ini nantinya akan menyebar ke masing-masing universitas tujuan mereka di Belanda, yang secara umum awal tahun ajarannya akan mulai di September.

Nuffic Neso Indonesia yang diwakili oleh Indy Hardono optimis tingkat keberhasilan suatu program beasiswa tidak hanya ditentukan oleh kuantitas penerima, namun juga oleh kualitas penerima beasiswa tersebut. Hal ini sangat terlihat dari profil penerima beasiswa StuNed 2019.

“Kalau dilihat dari jumlah memang menurun dibandingkan tahun lalu, namun secara kualitas, penerima beasiswa StuNed tahun ini jauh lebih berkualitas dibanding tahun lalu,” ujarnya.

StuNed adalah salah satu beasiswa yang tidak lagi memberikan keistimewaan. Namun demikian profil penerima beasiswa StuNed tahun ini menunjukkan peningkatan distribusi yang cukup beragam.

Hal ini bisa jadi dikarenakan kualitas pendidikan di Indonesia secara umum cukup menggembirakan dengan mulai banyaknya pelajar Indonesia dari kelompok ini yang diterima oleh berbagai perguruan tinggi berkelas dunia.

Turut hadir para alumni yang tergabung dalam Ikatan Alumni StuNed (I Am StuNed) yang memberikan support dan berbagi pengalaman hidup dan studi di Belanda sampai dengan selesai. (tety)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Share this product!