Taqlid Menurut Imam Al-Ghazali

Oleh Miftahussa’adah Wardi, MA

FENOMENA taqlid menurut Al-Khudari tidak hanya dilakukan oleh orang biasa tetapi juga oleh ulama ke ulama lainnya. Mereka memiliki antusiasme untuk mempelajari Al-Qur’an dan Sunnah Nabi, yang merupakan sumber utama untuk istinbath hukum.

Namun, mereka juga berkonsentrasi untuk mempelajari buku-buku imam mereka saja dan dengan mempelajari metode istinbat Imam mazhab. Fenomena lain merujuk pada beberapa orang yang mempelajari atau menulis buku tentang ahkam menurut imam mereka.

Orang-orang ini sekedar merangkum buku penulis sebelumnya dan membuat kompilasi, atau hanya memberikan penjelasan saja. Hal itu mengindikasikan taqlid. (Muhammad Al KHudari, Tarikh Tashri’ al-Islami, hal. 323)

Pada abad ini, dimana jarak antara era Rasulullah dengan era sekarang lebih dari 1440 tahun, fenomena taqlid semakin meluas dan bahkan semakin bertambah luas. Realitas ini bukan saja memicu kejumudan pemikiran agama, bahkan memunculkan fanatisme dalam bermazhab.

Maka atas keprihatinan tersebut penulis mencoba menelaah pemikiran Al-Imam Abu Hamid Al-Ghazali dan al-imam Ibn Taymiyah tentang taqlid. Kedua hujjatul Islam tersebut menurut penulis dapat dianggap representasi dari umat Islam abad ini.

Pemikiran Al-Ghazali banyak diikuti oleh mayoritas umat Islam Asia Tenggara, sedangkan pemikiran Ibn Taymiyah banyak diikuti oleh mayoritas umat Islam di Timur Tengah, khususnya negara-negara jazirah Arabia.

Hujjatul-Islam Abu Hamid Al-Ghozali mendefinisikan taqlid dalam karyanya al-Mustasyfa sebagai“qobuulu qaulin bilaa hujjah”, yaitu menerima pendapat tanpa dalil/argument.(Abu Hamid Al-Ghazali, Al-Mutasyfa, hal. 367). Menurut Al-Ghazali, bila seorang muslim menerima gagasan ulama tentang agama tanpa dalil, berarti ia telah bertaqlid.

Di era Al-Ghazali, taqlid ada dimana saja, bukan saja di masyarakat awam, bahkan di semua tingkatan umat Islam bertaqlid. Realitas inilah, menurut Al-Ghazali yang menyebabkan kejumudan intelektual sekaligus memicu perpecahan umat Islam.

Al-Ghazali menegaskan taqlid harus ditolak. Setidaknya ada dua alasan; pertama, menurutnya taqlid menciptakan fanatik terhadap mazhab tertentu sehinggga mendorong seseorang dengan enteng menuduh dan menyalahkan pengikut mazhab lain.

Pandangan apriori ini muncul dari kepercayaan yang didasarkan pada taqlid dan bukan pada pengetahuan. Maka realitas di atas mendorong AL-Ghazali untuk menulis bukuFaishal al-Tafriqah. Kaya tersebut selain membeberkan hakekaat kekurufan, menjelaskan kesalahan dalam beragama sebagai akibat dari fanatik terhadap mazhab tertentu, juga menjelaskan kesalahan mereka yang menyebabkan stagnasi intelektual.

Di akhir karyanya Al-Ghazali menyerukan agar setiap muslim mengikuti Al-Haqq saja. (Al-Ghazali, Faisal Al- Tafriqah .p. 132)

Alasan kedua bahwa taqlid membuat seseorang tidak memiliki pengetahuan yang mendalam dalam memahami agama. Kedangkalan pengetahuan itu adalah buah dari sikap fanatik terhadap mazhab tertentu. Para pengikut mazhab hanya puas ketika mereka menerima pandangan mazhab mereka, dan menolak pendapat mazhab lain tanpa menganalisis keaslian pandangan atau membandingkan keduanya.

Ini berarti bahwa mereka mengikuti mazhab dengan berkacamata kuda, tanpa didasari argumentasi rasional, dan tentunya tidak menggunakan‘ainulbashirah. Sikap ini muncul dari budaya taqlid yang meyakini keharusan mengikuti mazhab apapun yang diikuti ayah mereka. (Al-Ghazali, Ihya Ulum al- Din, hal. 291)

Mayoritas umat Islam di zaman Al-Ghazali berasumsi bahwa mencari ilmu pengetahuan membutuhkan upaya sementara manusia tidak selalu harus memaksakan diri. Pada saat yang sama mereka ingin menjalani kehidupan mewah sekaligus mencari kedudukan di mata penguasa.

Lebih jauh mereka berpikir bahwa mencari ilmu menghasilkan ketidakstabilan di masyarakat, sementara taqlid dapat menjaga stabilitas. Mereka beranggapan bahwa taqlid mendorong terjadinya interaksi yang harmonis di antara masyarakat sebagaimana adanya. (Victor Said Basil, Manhaj al-Bahth ‘An Al-Marifah, Inda Al- Ghazali. Hal. 134)

Sejak usia 20 hingga usia 50 Al-Ghazali mengabdikan hidupnya dengan melibatkan dirinya dalam berbagai sekte untuk mencari kebenaran. Dia memahami semua jalan penyelidikan sampai dia benar-benar puas dengan jawaban dari pertanyaan yang muncul, dia telah mengamati doktrin dan pengajaran rahasia. (Al-Ghazali, Al-Munqidz Min Al-Dalal, hal 67).

Pengalaman dan pengetahuan ini menuntunnya untuk menghapuskan taqlid sekaligus meruntuhkan kejumudan intelektual dengan cara merumuskan metode dan pendekatannya sendiri. Ia menyadari bahwa manusia memiliki kemampuan berbeda dalam mempersepsikan pengetahuan dan pemahaman agama.

Ia juga meyakini bahwa setiap manusia diberi tingkat kemampuan yang berbeda baik dalam aspek kognitif, afektif maupun psikomotorik. Karena alasan di atas, maka Al-Ghazali menyediakan waktunya untuk memberikan pencerahan kepada umat melalui karya-karyanya.

Menurut Al-Ghazali manusia terbagi kedalam dua kategori, pertama Al-khawas, yaitu orang-orang yang dianugerahi keunggulan akal. Oleh karena keunggulan ini maka keyakinan mereka tidak didasarkan pada taqlid atau fanatik terhadap mazhab tertentu. Kategori kedua disebut Al-‘Awam, yaitu orang yang memiliki keterbatasan untuk memahami Al-Haqaiq. (Al-Ghazali, Al-Qistas al-Mustaqim, hal. 114-115).

Selanjutnya Al-Ghazali dalam bukunya Al-Mustasyfa mendeskripsikan pandangannya tentang al-‘awam. Menurutnya Al-‘Awam adalah mereka yang meminta fatwa (pendapat hukum formal) dari para ulama dan serta merta mengikuti fatwa tersebut tanpa hujjah (argumentasi).

Jawaban pertama yang diberikan kepada AL-Qadariyah adalah bahwa sahabat nabi memberikan fatwa kepada orang-orang biasa tetapi mereka tidak membujuk mereka untuk melakukan ijtihad karena mereka tahu bahwa orang biasa tidak dapat melakukannya.

Dari penjelasan di atas penulis berpendapat; pertama bahwa taqlid adalah pemicu fanatisme dalam bermazhab yang menyebabkan terjadinya perpecahan umat; kedua taqlid menyebabkan stagnasi pemikiran umat yang menyebabkan keterbelakangan umat Islam.

Orang yang bertaqlid tidak memiliki kebebasan untuk mempresentasikan pemikiran mereka sendiri sebagaimana dilakukan oleh para ulama assalafussholih; ketiga bahwa bertaqlid dibenarkan hanya kepada baginda Rasulullah Shallalahun’alaihi wasallam. (wallahu a’lamu bishshowaab)

(Miftahussa’adah Wardi, MA, adalah Dosen Prodi KPI STAI Attaqwa Bekasi)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Share this product!