1.6 C
New York
29/02/2020
Aktual Nasional

Sibernomie Potensial Seret Kekerasan Dunia Maya ke Ruang Nyata

Foto bersama usai mempertahankan disertasi berjudul; Perilaku Sibernomie dan Tindakan Persekusi di Era Post-Truth (Kuasa Media Sosial Dalam Prespektif Kriminologis)

 

DEPOK – Jika anda mencari konsep siebernomie melalui mesin penelusuran google, anda tidak akan menemukan apa-apa karena tidak ada yang cocok dengan dokumen apapun. Tetapi konsep siebernomie itulah yang justru mengantar mantan Pemimpi Redaksi Harian Terbit Jakarta 1993-1995 Bagus Sudarmanto menjadi doktor dalam kriminologi dari Universitas Indonesia (UI).

Dalam Sidang Terbuka Senat Akademik UI dengan promotor Prof Adrianus E Meliala M.Si, M.Sc, Ph.D dan ko-promotor Dr Iqrak Sulhin M.Si di Auditorium Juwono Sudarsono, Kampus FISIF UI, Depok, Selasa (7/1), Bagus berhasil mempertahankan disertasinya berjudul: Perilaku Sibernomie dan Tindakan Persekusi di Era Post-Truth (Kuasa Media Sosial Dalam Prespektif Kriminologis).

Konsep sibernomie, kata promovendus merupakan prilaku anomie di ruang siber media sosial. Bagus memulai penelitian dengan mempelajari Teori Anomie, yang dikemukakan sosiolog Perancis, Emile Durkheim. Dalam bukunya The Division of Labor In Society (1964) Durkheim menggambarkan terjadinya perubahan besar struktur masyarakat di Eropa pada 1930.

Durkheim menggambarkan anomie sebagai sebuah kekacauan dan keinginan yang tak pernah terpuaskan (Cotterrell, Roger, 1999). Ini merupakan sebuah penjyakit karena keinginan tanpa batas tidak pernah dapat dipenuhi (Susan, Bowker, dan Neumann, 1997).

Konsep anomie Durkheim ini kemudian dikembangkan oleh Robert K Merton, dan Messener & Rosenfield (1994). Dalam Bernburg 2002 : 730-731 Messner dan Rosenfeld berupaya mengembangkan lebih jauh teori anomie Durkheim dan Merton ke bentuk institutional-anomie.

Teori ini perpijak pada bagaimana kemunculan anomie dalam kaitan tatanan institusional khusus pada masyarakat kontemporer. Berdasarkan berbagai konsep anomie tersebut ternyata penggunaan media sosial memberikan gambaran bahwa media sosial merupakan ruang interaksi yang telah memengaruhi pola perilaku masyarakat.

Media sosial atau medsos di era post-truth (budaya politik yang perdebatannya lebih mengutamakan emosi dan keluar dari inti kebijakan) menurut Bagus, merupakan ‘wadah kekuasaan’ dan juga agen untuk mendominasi kebenaran dan penundukan.

Kesenjangan ruang maya dan ruang nyata dan kekuasaan individu yang dimiliki setiap agen, membuat wacana di medsos dipenuhi pertarungan persepsi tentang makna kebenaran. (Jaishankar, 2008)

Alhasil, post-truth bukanlah sekadar hoax yang menyesatkan atau fake news yang memalsukan fakta, melainkan upaya mengklaim kebenaran. Tiap-tiap orang merasa dirinya benar meski hanya bersandar pada konstruksi tafsir dan opini terhadap fakta dan mengenyampingkan fakta sebenarnya,” tegas Bagus Sudarmanto.

Dengan melihat fakta-fakta tersebut, Bagus kemudian memberi nama perilaku anomie di ruang siber media sosial sebagai siber anomie, yanag kemudian disingkat menjadi sibernomie.

Berdasatkan uraian dan penjelasan di atas, promovendus berkesimpulan: Pertama, tindakan menggunggah ujaran harmful discourse (wacana berbahaya) di media sosial di era post-truth dapat disebut sebagai perilaku sibernomik dan keadaan sibernomie.

Rekonseptualisasi anomie (kondisi) di ruang siber ini diberi nama siber anomie atau disingkat sibernomie dan perilaku anomik nya disingkat menjadi sibernomik.

Kedua, atas temuan rekonseptualisasi anomie menjadi sibernomie, maka pertanyaan penelitian kedua dapat diartikan bahwa sibernomie dapat memantik perilaku tindakan kekerasan dari ruang maya ke ruang nyata.

“Hasil penelitiannya menemukan bahwa sibernomie tak saja memantik persekusi, tetapi juga bisa tidak memantik persekusi. Faktor penyebab ada-tidaknya persekusi adalah ruang, waktu, dan konteks saat ujaran berbahaya diunggah di ruang medsos,” kata pria kelahiran Singaraja 16 Juli 1957 itu.

Bagus Sudarmanto sendiri memulai karirnya sebagai wartawan di Harian Pos Kota dari 1979 hingga saat ini. Berbagai jabatan penting pernah disangdangnya dalam grup media tersebut. Pemimpin Redaksi Harian Terbit (1993-1995) dan Pemimpin Redaksi Tabloid AKSI (1996-1999).

Sebelum meraih gelar doktor dalam Kriminologi 2020, pada 2017 lalu ayah dua anak (putra dan putri) ini juga meraih gelar doktor Studi Program Doktor Ilmu Komunikasi di Sekolah Pascasarjana Usahid Jakarta. (aryo)

Related posts

Chatime Berbagi dan Bermain Bersama Anak Yatim

Tety Polmasari

Yusril Ingatkan Pemerintah Jangan Gembira Dulu.

Tety Polmasari

Penemuan Terbaru: Klinik Hayandra Perkenalkan Terapi Sel untuk Peremajaan Kulit dan Sistem Imun

Tety Polmasari

Leave a Comment