Wisata ke Air Terjun Cibeureum, Jalan Sehat di Kerimbunan Pohon

BOGOR (Pos Sore) — Berlibur ke pantai sudah biasa, traveling ke tempat-tempat hiburan juga lazim dilakukan keluarga Indonesia. Jalan-jalan ke mal terkenal pun sudah sering. Wisata kuliner, apalagi. Ingin cari suasana baru?

Coba kemping di pengunungan. Ajak keluarga liburan di alam pegunungan dan bermalam di tenda, bukan di tempat penginapan. Pasti asyik dan seru. Dan, tentunya anak-anak mendapatkan pengalaman baru.

Begitu pula yang dilakukan Rakhmat AR, yang mengajak tiga putri (Putik Cinta, Annajmu, Aliya) dan istrinya berlibur akhir tahun 2019 ke Taman Nasional Gunung Gede Pangrango, di sekitar kawasan Cisarua, Jawa Barat. Ia bersama keluarganya membuka tenda di kaki Gunung Gede. Tak masalah harus membayar Rp35.000 per kepala.

“Saya ingin mengenalkan alam kepada anak-anak sejak dini, apalagi saya kebetulan anggota Mapala UI. Kebetulan juga anak-anak ingin ke Gunung Gede. Dulu, saya dan istri pernah mendaki sampai ke puncaknya. Nah, anak-anak ingin mencobanya,” katanya.

Rencana mendaki terpaksa tidak sesuai rencana. Berdasarkan informasi yang disampaikan petugas, para pengunjung hanya diperkenankan mendaki ke air terjun Cibeureum. Boleh mendaki hingga ke puncak tapi tidak boleh membuka tenda.

“Kata petugas sih area gunung gede ditutup untuk pendakian hingga Maret 2020 karena akan dibersihkan,” kata Rakhmat yang tinggal di Depok, Jawa Barat, ini. Atas kondisi ini, jadi diputuskan mendaki ke air terjun Cibeureum.

Nama air terjun ini sangat terkenal di kalangan para pendaki, karena destinasi yang satu ini merupakan bagian dari jalur pendakian Gede Pangrango lewat Cibodas.

Akhirnya, Rakhmat bersama keluarga menyusuri jalanan yang berkontur menanjak. Berdasarkan papan petunjuk, dibutuhkan waktu sekitar 1 jam untuk sampai ke air terjun. Namun ternyata, Rakhmat untuk membutuhkan waktu sekitar 2 jam, yang setiap 15 menit beristirahat sekitar 1 menit.

Bisa dimaklumi karena Rakhmat membawa serta anak-anaknya yang tentu saja jadi harus disesuaikan dengan kekuatan anak-anak, terutama anaknya yang kecil, yang baru berusia 8 tahun. Jadi, mereka berjalan agak santai.

Perjalanan menuju air terjun Cibeureum meski butuh perjuangan karena medan yang menanjak dengan undakan bebatuan. namun, rasa letih akan terhapuskan dengan kesejukan alam karena dikelilingi rimbunnya pepohonan yang lebat khas hutan tropis. Di sini terdengar suara berbagai jenis burung, dan kalau beruntung akan menemui kera yang bergelantungan.

Perjalanan yang ditempuh memang cukup melelahkan, namun akan langsung hilang setelah melihat berbagai pesona alam yang sangat menakjubkan. Belum lagi pemandangan Telaga Biru.

Danau atau telaga yang berada di jalur pendakian ini tempat minum sejumlah binatang seperti babi hujan, macan, anjing hutan, dan kijang. Dinamakan telaga biru karena ada tumbuhan yang hidup di dalam danau sejenis ganggang yang menyebabkan warna air di danau sekilas terlihat berwarna biru kehijau-hijauan.

Berjarak 100 meter dari sini akan menemukan rawa Panyangcangan, yang bisa dijadikan tempat beristirahat sejenak. Ada juga jembatan panjang yang terbuat dari batu buatan yang sering menjadi salah satu tempat favorit berfoto ria atau selfie selama perjalanan ke Curug Cibeureum.

Jarak Curug Cibeureum dari selter Panyangcangan ini sudah sangat dekat. Kita kembali akan melewati jembatan yang di bawahnya tanah berair jernih. Jika tengar aliran air di sungai lalu beberapa saat  kemudian terdengar gemuruh air, itu tandanya beberapa meter lagi sampai di air terjun.

Air terjun Cibereum atau dalam bahasa Sunda disebut Curug Cibeureum, salah satu wisata alam yang terletak di bawah kaki Gunung Gede Pangrongo sehingga masih termasuk dalam kawasan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango. Ini menjadi salah satu objek wisata alam favorit pengunjung wisata cibodas.

Dengan karakteristik airnya yang sangat deras dan tebing yang tidak terlalu tinggi, air terjun ini menawarkan segarnya air yang jatuh dari ketinggian 50-60 meter dengan udara sekitar yang sangat sejuk. keindahan air terjun cibeureum ini ditunjukkan dengan alamnya yang masih asri dan airnya yang sangat segar.

Kata “ci” bisa diartikan sebagai air dan “beureum” diartikan merah. Jadi, bisa disimpulkan nama Cibeureum ini merujuk pada dinding air terjun yang berwarna merah karena adanya tumbuhan lumut merah jenis Sphagnum Gedeanum sehingga akan memberikan kesan warna merah pada air yang jatuh dari tebing tersebut.

Di lokasi keberadaan Curug Cibeureum, terdapat 2 curug lainnya. Tepat di sampingnya yaitu Curug Cidendeng dengan bentuk yang lebih langsing dan sedikit lebih tinggi. Lalu agak ke sebelah barat di paling ujung dan tersembunyi ada Curug Cikundul.

Ada cerita rakyat yang beredar di masyarakat, bahwa batu yang ada di bawah air terjun, yang terlihat memanjang pada posisi berdiri, itu adalah seorang petapa di zaman dulu. Tujuan petapaanya adalah dalam rangka pengampunan dosa-dosa yang telah dilakukannya. Saking lamanya bertapa di bawah curug, petapa itu pun mengeras dan akhirnya menjadi batu.

Rakhmat pun menikmati kesegaran air terjun penuh kehangatan bersama anak-anak dan sang istri. Baginya, ini adalah wisata yang menyehatkan setelah menyusuri track yang menanjak. (tety)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Share this product!