11.7 C
New York
11/05/2021
Aktual

Ditjen Pajak Nilai Seminar Perpajakan Pascasarjana Institut STIAMI Berkontribusi Baik bagi Indonesia

JAKARTA (Pos Sore) — Selama 10 tahun Program Pascasarjana Institut STIAMI konsisten menyelenggarakan Seminar Nasional Perpajakan demi terjadinya perbaikan dalam pencapaian target pajak. Kali ini mengangkat tema “Kebijakan & Potensi Tantangan Reformasi Perpajakan 2020 -2024 Menuju Era Ekonomi Digital”.

Seminar ini dimoderatori Dr. Atong Soekirman, dosen tetap Pascasarjana Institut STIAMI, yang juga Asisten Deputi Pengembangan Industri pada Deputi Bidang Koordinasi Perniagaan dan Industri Kemenko Perekonomian.

Dalam seminar perpajakan yang sudah 10 tahun rutin diadakan Institut STIAMI, ini menghadirkan pembicara Prof. Dr. Haula Rosdiana, Guru Besar Kebijakan Perpajakan Fakultas Ilmu Administrasi UI yang membawakan materi “Reformasi Administrasi Perpajakan 2020-2024 dalam mendukung keberlanjutan APBN”.

Selain itu, Dr. Machfud Sidik, dosen Pascasarjana Institut Stiami yang menyampaikan “Reformasi Perpajakan 2020-2024: Masukan Kebijakan, Administrasi dan Tahapan”, dan Fahmi Sahab, Wakil KADIN Bidang Pengembangan Kawasan Industri yang memaparkan materi “Peranan dan posisi pelaku Usaha pada Reformasi Perpajakan 2019-2024”.

Direktur Potensi, Kepatuhan, dan Penerimaan Direktorat Jendral Pajak, Yon Arsal, hadir dalam seminar dan menjadi Keynote Speaker mewakili Direktur Jenderal Pajak Kementerian Keuangan, Suryo Utomo, yang berhalangan hadir.
 

“Seminar Nasional ini adalah kontribusi terbaik Pascasarjana Institut Stiami bagi bangsa dan negara, khususnya pada bidang perpajakan,” kata Yon Arsal sebelum menyampaikan materi yang berjudul “Reformasi Perpajakan Menuju Era Ekonomi Digital”, di hadapan kurang lebih 500 Peserta Seminar, Sabtu (18/1/2020).

Pihaknya mengakui, meski terjadi peningkatan baik dari segi penerimaan maupun jumlah pembayar pajak, namun masih perlu dilakukan inovasi-inovasi untuk mengoptimalkan penerimaan pajak. Banyak kegiatan bisnis yang semestinya sudah dikenakan pajak, nyatanya belum bisa dilakukan akibat terbentur regulasi maupun strategi.

Terlebih pada era digital, dimana industry e-commerce tumbuh sangat pesat dan transaksi online makin mendominasi pasar keuangan. Dibutuhkan strategi dan inovasi khusus untuk membuat pajak pada era digital seperti ini bisa lebih dioptimalkan.

Direktur Program Pascasarjana Institut Stiami, Dr. Taufan Maulamin, S.E.Ak. M.M, yang ditemui usai membuka seminar tersebut, menyampaikan, sudah 10 tahun Institut STIAMI menyelenggarakan seminar perpajakan. Sebagai masukan membangun kesadaran Ditjen Pajak atas tidak tercapainya target pajak sejak 2012 yang ternyata tidak pernah mencapai target.

“Hasil dari seminar nasional perpajakan ini akan direkomendasi kepada Ditjen Pajak yang terstruktur. Karenanya, sebagai akademisi di era digital, Institut STIAMI memberikan masukan-masukan konsumtif mulai dari kepatuhan, kebijakan, hingga policy brief. Perpajakan ini kan potensial penerimaannya cukup besar, hanya memang perlu diperkuat dengan strategi seperti masih lemahnya sistem digitalisasi Ditjen Pajak,” ujarnya.

Selain itu, kita tidak memiliki single indentification number atau nomor induk kependudukan yang tetap sehingga tidak dapat secara integral setiap penduduk memiliki penerimaan, pengeluaran serta data-data yang valid dan baik. Ini kelemahan mendasar.

“Yang lebih penting lagi bagaimana komitmen kepala negara menata kedaulatan kependudukan dan integrasi antara perpajakan, kemendagri dan perbankan sehingga potensi-potensi pajak tidak banyak yang lost. Sekarang masih lost. Termasuk juga beberapa keberpihakan negara kepada tenaga kerja Indonesia,” tukasnya.

Pihaknya juga mengusulkan untuk dibentuknya badan fiskal tersendiri yang mengelola penerimaan negara sendiri, yang secara otoritatif di bawah koordinasi Presiden. Tujuannya, agar penerimaan pajak tidak banyak yang lost. Yang juga mengatur pemberian reward berdasarkan kinerja pencapaian pajak, bukan pada birokrasi.

Dalam kesempatan ini, Pascasarjana Institut Stiami juga melakukan serah terima kepengurusan HIMA periode 2019 yang di ketuai Yulianto ke pengurus baru pelantikkan Ketua Himpunan Mahasiswa (HIMA) Ali Massyhury (Mahasiswa AA86) periode 2020. (tety)

 
 

Related posts

The Latest Steel Reports Reviews From China

Tety Polmasari

Asosiasi Welding Dituntut Tingkatkan Kualitas Pelatihan Kerja

Tety Polmasari

KPU Kota Bogor Deklarasikan Kampanye Pemilu Damai 2014.

Tety Polmasari

Leave a Comment