15 C
New York
25/09/2021
Aktual

Surya Perankan Arya Dalam Monolog ‘Pisang Terakhir’ di TIM, Sabtu

JAKARTA, Possore.com– Masa lalu tidak hanya sekadar buat dikenang tetapi sangat banyak yang dapat dijadikan pelajaran untuk mengarungi samudera kehidupan selanjutnya.

Ada dari masa lalu itu merupakan kenangan pahit. Namun, tidak sedikit kenangaan manis. Posisi yang diraih seseorang saat ini tidak lebih dari adanya masa lalu.

Kenangan masa lalu itulah, kata Rizal Siregar sebagai sutrada yang akan mementasan monolog ‘Pisang Terakhir’ produksi Teater Imago Indonesia Jakarta.

Menurut Rizal, kisahnya tidaklah ribet. “Masalahnya menyangkut Arya Kamandanu yang menjadi tokoh pementasan monolog tersebut,” kata laki-laki Sipirok kelahiran Medan, Sumatera Utara tersebut kepada awak media di Komplek Parlemen Senayan, Jakarta, Selasa (3/3).

Masalahnya, kata Rizal, persoalan kekinan, terkait kejenuhan manusia dengan rutinitas hidup sehari-hari. Karena diburu waktu yang padat membuat tokoh yang ada di dalam cerita sampai ini lupa dengan lingkungan dan masa lalunya.

Pementasan yang digelar mulai pukul 19.30 WIB, Sabtu, (7/3) di Teater Kecil, Taman Ismail Marzuki (TIM), Jalan Cikini Raya 73, Jakarta Pusat ini dilakoni aktor Surya Dharma.

“Melakoni peran Arya Kamandanu bagi saya sebuah tantangan. Sebab, karakternya unik. Beban batin yang dialaminya cukup berat. Tapi itulah peran, sebarat apapun tantangannya harus bisa dilakoni dengan baik,” kata Surya.

Sebagai seorang aktor, Surya yang telah malang melintang dunia panggung dan musik mengatakan, proses latihan dua bulan membuatnya tetap bersemangat. “Karena sosok Arya yang begitu berkarakter membuat saya harus melakukan berbagai riset,” kata aktor kelahiran Medan, 3 April 1958 ini.

Surya pertama kali tampil sebagai seorang pemain teater lewat pementasan ‘Sok’ sutadara Buoy Hardjo di Taman Budaya Medan (1975). Tampil bersama dalam lakon ‘Pencuri Kepincut’ (1976) sutradara Burhan Piliang (1976). Kemudian tampil dalam lakon ‘Nujum Pak Belalang’ (1978) sutradara D Rifai Harahap.

Hijrah ke Jakarta, aktor yang akrab disapa ‘Pak Tua’ ini sempat digarap Irwan Siregar dalam lakon ‘Rayuan Destor’ untuk Festival Teater 5 wilayah DKI (1988) Bersama Satu Merah Panggung pernah tampil dalam pementasan Pesta Terakhir (1996) dan Marsinah: ‘Nyanyian dari Bawah Tanah’ (1994), ‘Anak-Anak Kegelapan’ (2003) Pernah tampil Opas dalam ‘Opera TIM’ karya Sudibyo JS di Graha Bhakti Budaya, TIM (2015).

Dia juga tampil sebagai Ayah dalam Drama musikal Judul ‘Jambar Ni Parsubang’ di Teater Besar TIM (2015). Sempat juga berperan sebagai Guru dalam Naskah ‘Perguruan’ karya Wisran Hadi di Taman Budaya Semarang (2018). (decha)

Related posts

AKI Masih Tinggi, Target MDG’s ‘Meleset’

Tety Polmasari

Pemerintah Berharap BPIH 2015 Tidak Naik

Tety Polmasari

Ketua DPR Sambut Baik Pesta Bikers di Senayan

Ramli Amin

Leave a Comment