25.6 C
New York
12/08/2020
Aktual Internasional

Solidaritas Perempuan Dunia untuk Perjuangan Palestina “Tolak Perampasan Tepi Barat”

JAKARTA (Pos Sore) — Solidaritas perempuan seluruh dunia untuk perjuangan anak dan perempuan di Palestina menegaskan menolak tegas perampasan Tepi Barat oleh zionis Israel. Dalam webinar bertajuk “Tolak Perampasan Tepi Barat”, Minggu (21/6/2020), ormas muslimah dan lembaga perempuan, menegaskan membiarkan perampasan Tepi Barat sama saja dengan menyerahkan masjid Al Aqsa ke dalam penguasaan zionis.

“Saya mengapresiasi acara seminar ini, sebagai bentuk kepedulian perempuan terhadap perjuangan bumi Palestina. Koalisi ini bertujuan untuk menunjukkan solidaritas perempuan seluruh dunia untuk perjuangan anak dan perempuan di Palestina,” tegas Dr. Fauziah Mohd Hasan, Sekretaris Jenderal Global Woman Coalition for al Quds and Palestine (GWCQP).

Seminar ini sendiri digagas oleh Asia Pacific Women’s Coalition for Al Quds and Palestina (ApWCQP) bekerjasama dengan Adara Relief International melalui zoom meeting. Dihadiri oleh 400 peserta, termasuk pimpinan dari 10 ormas muslimah dan 2 lembaga perempuan Indonesia.

Ketua Bidang Sosialisasi dan Edukasi Komite Nasional untuk Rakyat Palestina Muhammad Syarif, Lc., MA, yang menjadi narasumber webinar tersebut, menyatakan tujuan dari perampasan Tepi Barat ini adalah untuk menguasai Masjid Suci Al Aqsa, dan menghapus agenda Palestina berdaulat sesuai Tapal 1967.

“Zionis juga ingin mengusir bangsa Palestina dari Tepi Barat dan melenyapkan otoritas Palestina. Selain itu, untuk merealisasikan Deal of Century dan sebagai perwujudan dari janji kampanye Banyamin Netanyahu yang akan mencaplok Tepi Barat dan Lembah Yordania,” tandas aktivis Palestina ini.

Ia kembali menegaskan bahwa Tepi Barat sesungguhnya benteng Al Quds. Membiarkan perampasan Tepi Barat itu sama saja artinya menyerahkan masjid Al Aqsa ke dalam penguasaan zionis. Dan, ini jangan sampai terjadi.

Wakil Ketua GWCQP DR. Sajidah, yang juga menjadi narasumber webinar, menggaungkan gerakan atau kampanye “Tepi Barat Milik Kita” yang dicanangkan selama Juni 2020 ini. “Yang terjadi di Palestina saat ini bukan hanya perampasan wilayah, tetapi juga terusirnya penduduk dari negerinya sendiri,” begitu alasan mengapa kampanye itu digulirkan.

Menurut perempuan kelahiran Gaza berusia 53 tahun ini, perampasan wilayah Tepi Barat melalui pemukiman ilegal zionis tidak hanya merampas hak tinggal penduduk Palestina, tetapi juga menggusur dan menelantarkan anak-anak, wanita, dan manula.

“Perampasan ini juga merusak pusat perdagangan, lahan pertanian, fasilitas social dan pendidikan, bahkan juga merusak tempat-tempat suci dan situs-situs sejarah Palestina,” tegasnya.

Ia menjelaskan, gerakan ini ingin menyampaikan pesan bahwa Palestina tidak sendiri. “Ini adalah nilai kesetiaan kita sebagai bangsa yang berdaulat kepada bangsa lain yang masih terjajah,” tegasnya. Karenanya, ia pun meminta dukungan sosial dari para peserta seminar untuk mempublikasikan seruan ini. Sesuai dengan kemampuan masing-masing.

Acara ditutup dengan pidato dan pembacaan pernyataan sikap ApWCQP oleh Presiden ApWCQP, sekaligus Ketua Adara Relief International, Nurjanah Hulwani, S. Ag. M.E. Di awal pidatonya Nurjanah mengimbau agar semua pihak terus melakukan dukungan dan pembelaan terhadap anak dan perempuan Palestina — pihak yang paling rentan menjadi korban penjajahan Israel. (tety)

Related posts

Ikuti Jejak Sang Ayah, Iskander Van Doorn Berikrar Muslim

Tety Polmasari

Bank BTN laksanakan public expose marathon

Tety Polmasari

Sebelum ke Belanda, 300 Pelajar Indonesia Dapat Pembekalan

Tety Polmasari

Leave a Comment