22.3 C
New York
14/06/2021
Aktual Ekonomi

Koperasi Dinilai Belum Bisa Menjadi Kekuatan Utama Perekonomian Indonesia

JAKARTA (Pos Sore) — Meski pembangunan koperasi telah berlangsung selama 73 tahun, namun koperasi dinilai belum bisa menjadi kekuatan utama dan soko guru perekonomian Indonesia. Setidaknya terlihat dari hasil riset Kementerian Koperasi dan UKM yang menunjukkan Indeks Pembangunan Koperasi (IPK) Indonesia tahun 2019 hanya 2,08 persen.

“Artinya kontribusi koperasi dalam pembangunan di 2019 hanya 2,08 persen,” ujar Peneliti Ahli Utama KemenkopUKM Dr Johnny Walker Situmorang, dalam Focus Group Discussion (FGD) Pengkajian Program Pengembangan Koperasi bertema “Peran Koperasi dalam Pembangunan Ekonomi Indonesia” di Hotel Horison Bekasi, Rabu (30/9/2020).

Johnny menjelaskan belum mampunya koperasi menjadi sokoguru perekonomian itu antara lain disebabkan koperasi lemah dalam penerapan prinsip-prinsip koperasi dan masih rendahnya persentase Rapat Anggota Tahunan (RAT), yang pada 2019 hanya mencapai 33,99 persen. Sedangkan sepanjang 2015-2019 rata-rata persentase koperasi yang melakukan RAT lebih rendah lagi yaitu hanya 25,06 persen.

Data KemenkopUKM menunjukkan jumlah koperasi pada 2019 mencapai 123.048 unit dengan anggota sebanyak 20,45 juta, aset sebesar Rp136,17 triliun dan volume usaha Rp136,97 triliun. Jika dilihat dari provinsi, secara umum koperasi malah mampu tumbuh berkembang di luar Jawa.

Ada lima provinsi dengan IPK di atas 5 persen yaitu Bali (13 persen), Kalbar (11,5 persen) Jogjakarta (9,5 persen), NTT (6,8 persen) dan Jateng (6,2 persen).

Karenanya, ke depan pembangunan koperasi sebaiknya fokus pada 66 ribu koperasi dengan pelaksanaan RAT 90 persen. “Kenapa 66 ribu? Itu saya hitung berdasarkan budgeting untuk pembinaan koperasi atau setiap kota cukup 100 koperasi saja,” katanya. Selain itu, perlu membangun sistem data basis pembangunan koperasi dimana KemenkopUKM bisa menjadi wali data perkoperasian nasional.

Sementara itu, Asdep Tatalaksana Koperasi Dr Hanafiah mengatakan, agar mampu bersaing apalagi di tengah wabah pandemi Covid -19 ini, koperasi konvensional harus berubah menjadi koperasi modern yang mampu mengaplikasikan teknologi digital. Bahkan kalau perlu koperasi bisa menjadi aggregator yang menghubungkan konsumen dengan produsen melalui layanan aplikasi.

“Koperasi juga dibolehkan mengelola bisnis seperti swasta semisal perhotelan, SPBU, perkebunan kelapa sawit. Kita menargetkan pada 2024 akan ada 500 koperasi modern,” kata Hanafiah yang juga sepakat RAT yang berkualitas sangat dibutuhkan dalam kelangsungan koperasi.

Masalah leadership juga menjadi faktor penting berkembangnya satu koperasi. Seorang pemimpin harus memiliki tiga kemampuan, yakni konseptual skill, technical skill dan interpersonal skill.
Konseptual skill berarti pemimpin harus memiliki visi dan misi dalam berkoperasi bahkan harus berpikir saat pemimpin sudah tidak ada, sektor ekonomi harus tetap jalan terus tidak boleh terhenti.

“Techinal skill berarti seperti saat ini, menggunakan media tertentu dan menunjukkan bagaimana berperilaku berkoperasi yang sebenarnya. Dan, interpersonal skill, karena pemimpin harus bisa mengkomunikasikan hasil Rapat Anggota dan mengimplementasikannya dalam program yang nyata,” urai Hanafiah.

Mangatas Pasaribu Asdep. Penelitian dan Pengkajian KemenkopUKM menambahkan, semua masukan dari hasil riset ini akan dijadikan pertimbangan dalam melakukan pembinaan koperasi koperasi baik di provinsi di kota kabupaten. (tety)

Related posts

Bakrie & Brothers Siap Bangun Proyek Pipa Transmisi Gas Bumi Cirebon Semarang

Tety Polmasari

DPR Dukung KPK Awasi Pilkada

Tety Polmasari

TKA Wajib Patuhi Aturan Ketenagakerjaan

Tety Polmasari

Leave a Comment