17.5 C
New York
13/05/2021
Aktual Nasional Pendidikan

Pascasarjana Institut STIAMI Adakan Semnas Profetik dan Agile Leadership dalam Perspektif Good Governance di Era 4.0

JAKARTA (Pos Sore) — Wakil Ketua MPR Jazilul Fawaid mengatakan, agar Indonesia sukses memasuki era industri 4.0, maka seluruh khazanah kearifan kepemimpinan yang dimiliki oleh bangsa ini baik bersumber dari kearifan lokal, agama- agama, kepemimpinan adat, kepemimpinan Pancasila harus digunakan secara bersama-sama.

Namun di sisi lain, para pemimpin juga harus open minded terhadap praktik baik dari teori dan praktik kepemimpinan bangsa lain yang terbukti baik seperti agil leadership, transformative leadership dan lainnya.

“Metode ini dalam khasanah NU disebut sebagai prinsip al muhafadhotu ‘ala qodimis sholih wal akhdzu bil jadidil ashlah yakni memelihara yang lama yang baik dan mengambil yang baru yang lebih baik,” tegasnya.

Ia mengemukakan hal tersebut saat menjadi pembicara kunci dalam Seminar Nasional bertema Profetik dan Agile Leadership dalam Perspektif Good Governance di Era 4.0 yang diadakan Pascasarjana Institut STIAMI, Sabtu (20/2/2021) yang diadakan secara virtual.

Seminar ini menghadirkan pembicara Deputi Gubernur DKI yang juga dosen Institut STAMI Dr. Dadang Solihin, Chief of Human Capital Offcer PT XL Axiata, Tbk Rudy Afandi, Ketua Umum Asosiasi Perguruan Tinggi Swasta Indonesia (APTISI) sekaligus Ketua Pembina Aliansi Perguruan Tinggi (APERTI) Budi Djatmiko, dan Direktur Utama PT Indofarma Arief Pramuhanto.

Menurut Jazilul, profetik dan agile leadership dalam perspektif good governance menjadi sesuatu yang menarik untuk dibahas. Melalui pembahasan ini nantinya kita bisa melihat bagaimana insiprasi dan gaya kepemimpinan kenabian (spiritual leadership) dan aqil leadership berdinamika dengan zamannya.

“Sehingga nantinya bisa diadopsi atau diadaptasi oleh organisasi pemerintah, bisnis dan civil society guna menghadapi era 4.0 yang sangat kompleks,” tuturnya.


Rektor Institut STIAMI Prof. Dr. Ir. Wahyudin Latunreng, M.M saat membuka mengatakan, penyelenggaraan seminar nasional ini merupakan tradisikan yang wajib diikuti oleh mahasiswa minimal dua kali dalam setahun. Tradisi akademik tersebut menghadirkan narasumber yang berkompeten di bidangnya.

“Tujuannya agar mahasiswa dapat berpikir out of the box sehingga lebih fleksibel saat memasuki dunia kerja. Ini budaya akademik yang dibangun oleh Institut STIAMI bertahun-tahun dan wajib diikuti oleh mahasiswa menjelang sidang akhir untuk lebih membuka wawasan mahasiswa,” katanya.

Rektor menambahkan, seminar ini tidak hanya sekedar mengikuti setiap materi yang dipaparkan oleh narasumber, tetapi juga wajib untuk menyusun laporan dari kegiatan tersebut. Tujuannya agar transfer pengetahuan (transfer of knowledge) dari narasumber dapat lebih optimal ditangkap oleh mahasiswa.

Dalam tradisi akademik tersebut, Rektor juga menyatakan kebanggaannya karena hampir setiap even seminar nasional, jumlah artikel yang dibahas terus bertambah. Artikel ilmiah tersebut datang dari berbagai perguruan tinggi di tanah air baik negeri maupun swasta.

“Ini artinya, keberadaan Institut STIAMI dalam kancah akademik tingkat nasional semakin diperhitungkan. Untuk kali ini, saya mendapat laporan ada 58 artikel yang dikirim oleh perguruan tinggi lain dari seluruh Indonesia,” tambah Rektor.

Ia berharap ke depan, seminar nasional bisa menghadirkan artikel dari perguruan tinggi asing. Pelibatan perguruan tinggi asing dalam kegiatan akademik akan dilakukan guna meningkatkan mutu dan kualitas Institut STIAMI.

Direktur Program Pascasarjana Institut STIAMI Dr. Taufan Maulamin, S.E. Ak. MM, menambahkan, seminar nasional yang diadakan menjelang sidang tesis ini menjadi budaya akademik yang dibangun oleh Institut STIAMI untuk memberikan wawasan berbeda terhadap mahasiswa yang akan lulus dari Institut STIAMI.

“Kami sudah lakukan budaya akademik seperti ini cukup lama dan hasilnya sangat bagus,” tutur Taufan.

Seminar ini sengaja mengambil tema terkait Profetik dan Agile Leadership dalam Perspektif Good Governance di Era 4.0 karena leadership agility diperlukan oleh pemimpin dalam melaksanakan fungsinya secara efektif untuk menghadapi situasi dunia yang sangat cepat perubahannya.

Kelincahan dan kegesitan dalam mengambil keputusan serta mengeksekusinya akan menentukan keberhasilan membawa organisasi ke arah yang dikehendaki.

“Tema ini sangat tepat untuk memberikan pemahaman lebih baik lagi terhadap semua lulusan Institut STIAMI. Karena sesungguhnya era 4.0 akan segera dilindas oleh era industri 5.0. Jadi jangan lagi hanya terpacu pada era 4.0. Kita harus segera bersiap diri menjadi bagian integral dari era 5.0,” tegasnya. (tety)

Related posts

Kemenkop UKM Berikan Layanan Publik Terintegrasi

Tety Polmasari

Twenty Methods to Make Your Web-site Trustworthy On your Visitors

Tety Polmasari

47 Anggota FPKB DPR Sumbangkan Gaji ke-13 untuk Korban Banjir Purworejo

Tety Polmasari

Leave a Comment