15.3 C
New York
27/09/2021
Aktual Nasional

Catatan IDI dalam “Peringatan” 1 Tahun Pandemi Covid-19

JAKARTA (Pos Sore) — Terkait perjalanan satu tahun pandemi Covid-19, PB Ikatan Dokter Indonesia (IDI) mengumpulkan beberapa data penting yang masyarakat harus mengetahui agar dapat menjaga diri sebaik mungkin.

Terutama bagaimana masyarakat harus menyikapi virus yang kini memasuki tahun kedua ini. Virus yang justeru semakin ke sini semakin “pintar” beradaptasi. Apakah pandemi ini akan berakhir dalam waktu dekat atau terus berlangsung lama dengan mutasi-mutasinya?

Ketua Umum PB IDI dr. Daeng M Faqih menyampaikan, saat ini kita menghadapi virus baru, dengan sifat yang berbeda dengan virus yang pernah ada, dengan kecepatan mutasi yang juga cepat.

“Belum lama ini pemerintah mengumumkan varian B.117. Belum lepas dari varian ini, dunia pun dihebohkan lagi dengan varian baru yang berkembang yang ditemukan di Inggris yakni N439K,” tuturnya dalam “peringatan” 1 tahun pandemi Covid-19, di kantor PB IDI, Jakarta, Rabu (10/3/2021).

Dan, ternyata varian N439K ini yang sudah lebih menyebar di 30 negara ternyata lebih “smart” dari varian sebelumnya. Dikatakan lebih “smart” karena mampu mengecoh antibody meski terbentuk dari imunitas orang yang pernah terinfeksi.

Virus corona yang “biasanya” masuk melalui “pintu” ACE2 atau Angiotensin converting enzyme 2, kini sudah bisa mencari “pintu” yang lain. ACE2 adalah enzim yang menempel pada permukaan luar (membran) sel-sel di beberapa organ, seperti paru-paru, arteri, jantung, ginjal, dan usus.

Itu sebabnya mengapa Covid-19 sulit diprediksi kapan berarti. Dan, itu sebabnya juga mengapa kesannya Covid-19 trennya selalu naik, meski angka kesembuhan juga naik.

“Karena itu, yang harus diwaspadai saat ini adalah penularan yang dibawa oleh yang asimtomatis atau orang yang berpotensi menularkan tetapi tidak bergejala,” katanya.

Meski tidak bergejala, tetapi mempunyai kemampuan menyebarkan virus sama dengan orang terinfeksi yang bergejala. Penularan dapat terjadi tanpa disadari karena berdasarkan data global bahwa 1 dari 3 orang adalah orang asimtomatis.

Dari data yang didapati penularan virus dapat melalui tranmisi aerosol, yaitu pembawa virus bisa menularkan virus hanya dengan bernapas atau berbicara. Sehingga yang paling sulit adalah mengendalikan orang-orang yang asimtomatis.

“Misalnya, di ruangan ini saya sudah bertemu dengan beberapa orang. Sebagian sudah pulang, dan sebagian masih ada di ruangan. Karena 1 dari 3 orang berpotensi menularkan sebagaimana data global, maka virus masih beterbangan di udara di dalam ruangan ini,” terangnya.

Bahkan dari kumpulan laporan-laporan berbagai negara menunjukkan antara 5% hingga 80% orang yang dites positif SARS-CoV-2 mungkin tidak menunjukkan gejala. Hal ini menjadi penyulit dalam pengendalian karena tidak mungkin setiap hari semua orang ditest.

Potensi itu mengindikasikan penularan riskan terjadi pada ruangan tertutup dengan udara yang berputar atau menggunakan pendingin ruangan. Pada ruangan dengan sirkulasi udara yang buruk dan kurang cahaya ultraviolet, virus bisa bertahan hingga tiga jam dalam ruangan.

Karenanya, IDI merekomendasikan jendela-jendela ruangan harus dibuka agar ada sirkulasi udara untuk memudahkan udara yang kotor bisa keluar dan tidak berkumpul dalam ruangan yang tertutup.

Ia mengungkapkan, dalam banyak kasus, penularan Covid-19 terjadi diakibatkan tertutupnya jendela-jendela di semua ruangan. Itu sebabnya, WHO menganjurkan untuk membuka jendela dalam ruangan yang tertutup.

“Ventilasi terbuka sangat penting untuk menghilangkan viral load di udara yang keluar dari orang-orang yang asimtomatik. Karena itu, semua ruangan atau tempat umum baik tempat usaha, perkantoran, sekolah, tempat ibadah dan lain-lain agar membuka jendela,” terangnya.

Jika ruangan yang tidak bisa membuka jendela harus mengunakan pembersih udara (air purifier) yang dapat menyaring dan membunuh virus 99,9%. Sehingga kegiatan sekolah, kantor, tempat usaha dapat kembali aktif.

Pilihan lain, menggunakan jika tetap alat ingin memakai AC sebaiknya yang memiliki sistem filter saringan udara kotor. Atau dengan memasang exhaust fan untuk mengalirkan udara dari dalam ke luar ruangan.

Apabila AC tidak memiliki sistem penyaringan udara kotor, sebenarnya udara yang berputar adalah yang sebelumnya dikeluarkan oleh AC, sehingga udara tetap kotor. Karena itu, dia menyarankan agar selalu membuka jendela agar ada pertukaran udara bersih dari luar menggantikan udara kotor di dalam ruangan.

“Pada keadaan ruangan yang tertutup, di mana udara berputar-putar, atau transmisi pada ruangan dengan udara AC yang berputar-putar maka berpotensi menjadi masalah,” tegasnya.

Menurutnya, 3M — memakai masker, mencuci tangan pakai sabun di air yang mengalir, menjaga jarak, plus tidak berkerumun, menjadi kunci agar terhindar dari penularan.

Karena itu, penggunaan masker di tempat umum menjadi wajib. Disarankan memakai masker yang dapat melindungi hingga 90% penularan dan tertular seperti masker bedah, N95, KN 94, KF 94.

“Penggunaan masker yang baik dan benar sangat penting, meskipun ada resiko hingga 10% keluarnya droplet dan microdroplet dengan pemakaian masker dalam jangka waktu yang lama, walau kadang benar, namun ini sangat bermakna dalam menurunkan transmisi,” tuturnya.

Ia juga mengingatkan pentingnya menjaga kebugaran dan tidak stress untuk terhindar dari penularan Covid-19. Sekalipun orang yang sehat dan bugar juga akhirnya terinfeksi, namun cenderung tidak bergejala (asimtomatik).

“Kalaupun bergejala dalam level ringan tidak akan membawa orang tersebut ke fase berat hingga kritis. Maka, pastikan kondisi tubuh kita dalam keadaan sehat dan bugar,” ujarnya.

Beberapa penelitian membuktikan mengkonsumsi vitamin D3 5.000 IU dan Vitamin C dapat mencegah terinfeksi dan keparahan ketika terinfeksi Covid-19 secara bermakna,” ungkapnya.

Sementara itu, bagi yang komorbid atau memiliki penyakit penyerta, juga beresiko tertular. Karena itu, disarankan untuk harus teratur berobat dan terkontrol.

Bagi masyarakat yang belum mengetahui status kesehatannya apakah memiliki komorbid atau tidak, sebaiknya melakukan skrining komorbid. Apakah diabetes, darah tinggi, atau jantung.

Karena itu, Indonesia harus benar-benar konsisten mewujudkan Sistem Kesehatan Nasional sebagai bagian penting dalam Sistem Ketahanan Bangsa agar ekonomi menjadi stabil dan berkembang.

“Laporan dari lapangan memberi sinyal kuat bahwa yang memimpin penyelesaian pandemi adalah ilmu pengetahuan. Negara dengan latar belakang politik apapun mengikuti science terbaru untuk penyelesaikan pandemi,” tandasnya. (tety)

Related posts

Peringatan 60 tahun Konferensi Asia Afrika (KAA) akan digelar mulai 19-24 April 2015

Tety Polmasari

Isteri Purnawirawan Sekap Belasan Pembantunya

Tety Polmasari

Terdampak Krisis, Anis Minta Negara Hadir Penuhi Kebutuhan UMKM

Tety Polmasari

Leave a Comment