21.6 C
New York
18/09/2021
Aktual Kesra

Kesejahteraan Buruh Sektor Kelapa Sawit, Terus Ditingkatkan

JAKARTA (Pos Sore) — Data Kementerian Pertanian (Kementan) tahun 2019 menunjukkan jumlah petani kelapa sawit sebanyak 2,67 juta orang dan tenaga kerja tercatat 4,42 juta pekerja.

Jumlah pekerja tersebut terdiri dari 4 juta atau 90,68 persen pekerja kelapa sawit besar swasta nasional yang bekeja di 321 ribu atau 7,26 persen pekerja kelapa sawit besar milik negara dan 91 ribu atau 2,07 persen bekerja kelapa sawit besar milik swasta asing.

Oleh sebab itu sektor kelapa sawit menjadi primadona dan merupakan salah satu sektor industri yang berperan penting terhadap perekonomian Indonesia.

Beranjak dari kondisi itu, Kemnaker sebagai pemangku kepentingan di sektor ketenagakerjaan terus mengupayakan terwujudnya hubungan industrial yang harmonis dan berkeadilan di sektor kelapa sawit guna meningkatkan kesejahteraan pekerja di sektor tersebut.

“Sektor kelapa sawit identik dengan pekerjaan yang menyerap banyak tenaga kerja dengan tingkat mayoritas pendidikan rendah,” kata Direktur Jenderal Pembinaan Hubungan Industrial dan Jaminan Sosial Tenaga Kerja (PHI-Jamsos) Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker), Indah Anggoro Putri,

Ia mengatakan, hubungan kerja pekerja/buruh sektor perkebunan sawit sebagian besar dilakukan dengan Perjanjian Kerja Waktu Tertentu (PKWT), termasuk di dalamnya pekerja harian.

“Ini berdampak pada perlindungan dan syarat kerjanya tentang Perjanjian Kerja Waktu Tertentu (PKWT), Alih Daya, Waktu Kerja, Waktu Istirahat dan Pemutusan Hubungan Kerja,” ucapnya.

Saat ini sesuai data BPS bulan November tahun 2020, jumlah total luas area kelapa sawit di Indonesia mencapai sekitar 14,60 juta hektar. Dari luasan tersebut, Perkebunan Besar Negara (PBN) memiliki sebagian kecil yaitu 614.756 hektar atau 4,29 persen; sementara sebagian besar diusahakan oleh Perusahaan Besar Swasta (PBS) yaitu sebesar 55,09 persen atau seluas 7.892.706 hektar dari total produksi minyak sawit Indonesia.

Dia mengatakan, kondisi hubungan kerja di sektor kelapa sawit tidak terlepas dari dukungan berbagai pihak yang memunculkan berbagai kemungkinan terburuk akibat dari pandemi COVID-19, seperti penutupan pabrik karena kasus penularan.

“Perlunya antisipasi kemungkinan terburuk akibat pandemi COVID-19 dengan meningkatkan kualitas dialog sosial dalam merespon dampak kemungkinan akibat pandemi COVID-19 terutama dampak pada kondisi hubungan kerja,” ucap Dirjen Putri. (hasyim)

Related posts

50 Anak Ikut Khitanan Massal, Meriahkan HUT Ke-2 RSIA Brawijaya Depok

Tety Polmasari

Transmisi Gas Ruas Cisem, PKS: Tak Tepat Jokowi Ambilalih Proyek Partisipasi Masyarakat

Akhir Tanjung

Dekopin Sebut Sistem BUMDes Bertentangan dengan Jiwa Pancasila

Tety Polmasari

Leave a Comment