28.3 C
New York
02/07/2022
Aktual Nasional

Indonesia Sejak Dulu Menempatkan Agama sebagai Kekuatan Pemersatu Bangsa

JAKARTA (Pos Sore) — Agama sebagai Kekuatan Pemersatu Bangsa dan Penggerak Pemajuan Peradaban Bangsa dengan Paradigma Pancasila. Demikian topik Focus Group Discussion (FGD), Jumat 17 Juni 2022 secara daring.

FGD diadakan Aliansi Kebangsaan bersama Forum Rektor Indonesia, Akademi Ilmu Pengetahun Indonesia (AIPI), Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI), dan Harian Kompas.

Menghadirkan narasumber cendikiawan Prof Azyumardi, Kepala Pusat Kerukunan Umat Beragama (PKUB) Kementerian Agama RI Wawan Djunaedi, Antropolog Universitas Gadjah Mada (UGM) Dr. Sita Hidayah.

Selain itu, Komisioner Komnas Perempuan RI, Dewi Kanti Setianingsih yang juga tokoh penghayat Sunda Wiwitan, Sekretaris Umum Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI) Pdt. Jacky Manuputty, dan Suhadi Sendjaja, Ketua Umum Parisadha Buddha Dharma NSI.

Dalam pengantarnya, Ketua Aliansi Kebangsaan Pontjo Sutowo, menyampaikan, bangsa Indonesia sejak dahulu menempatkan agama sebagai kekuatan pemersatu bangsa.

Karena itu, meski bangsa ini dibangun dengan keragaman agama, tidak pernah terjadi dalam sejarah muncul konflik atau perang berkepanjangan antar penganut agama yang berbeda.

“Agama bagi bangsa Indonesia memiliki peran signifikan sebagai perekat kohesi sosial sekaligus determinan utama pembangunan etos dan etis kebangsaan kita,” katanya dalam sambutan tertulis yang dibacakan Pakar Aliansi Kebangsaan Mayjen TNI (Purn) I Dewa Putu Rai.

Pontjo menjelaskan hubungan agama dengan negara dalam praktik kehidupan kenegaraan masa kini dapat dipolakan ke dalam tiga bentuk.

Yaitu, integrated, yaitu terjadi penyatuan antara agama dan negara dalam wajah negara teokrasi.

Intersectional, terjadi persinggungan antara agama dan negara, dan secularistic yang memisahkan secara diskrit agama dengan negara.

Dari tiga praktik kehidupan kenegaraan tersebut, para pendiri negara telah bersepakat untuk tidak menjadikan Indonesia sebagai negara teokrasi dan tidak pula negara sekuler.

Jika merujuk pada pola hubungan tersebut, hubungan agama dengan negara, dalam tata hidup bersama kita, bersifat interseksional, dengan tekanan khusus pada fundamentalnya posisi keber-Tuhan-an dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Masalahnya, kata Pontjo, belakangan ini kehidupan berbangsa masyarakat Indonesia diwarnai dengan berbagai gejala.

Menunjukkan belum optimalnya signifikansi agama dan keberagamaan bagi pembangunan peradaban nasional.

Berbagai persoalan masih menghantui bangsa ini. Ditandai dengan beberapa gejala. Di antaranya, berulangnya berbagai peristiwa dan kasus terorisme/ekstremisme kekerasan berbasis doktrin keagamaan tertentu.

Marak juga gerakan untuk mengganti negara Pancasila dan mendirikan negara khilafah, radikalisme dan massifnya ujaran kebencian (hate speech) dengan menggunakan doktrin-doktrin keagamaan.

Sementara itu, Ketua Forum Rektor Indonesia Prof Ir Panut Mulyanto dalam sambutannya mengatakan, agama sejatinya dapat menjadi kekuatan pemersatu bangsa.

Keragaman agama yang ada di Indonesia oleh para pendiri bangsa diharapkan justeru akan menguatkan bangsa Indonesia untuk lebih cepat mencapai kejayaan.

“Namun kenyataannya saat ini ada hal-hal yang dikaitkan dengan agama oleh sebagian saudara-saudara kita yang pada akhirnya menimbulkan paham radikalisme dan sikap intoleran bahkan anti Pancasila,” kata Panut.

Menurutnya media yang sangat baik untuk mengatasi persoalan tersebut adalah melalui pendidikan dari tingkat PAUD hingga pendidikan tinggi.

Bagaimana lembaga pendidikan, mampu menanamkan nilai-nilai Pancasila ini. Bagaimana juga para penganut agama menjalankan ajaran agamanya dengan benar.

“Sehingga pada akhirnya agama bagi bangsa Indonesia benar-benar menjadi alat pemersatu bangsa,” tambah Prof Panut.

Di luar lembaga pendidikan, penanaman nilai-nilai Pancasila bagi masyarakat bisa dilakukan dengan pendekatan diskusi-diskusi, pendekatan ekonomi dan pendekatan humanitas.

Panut yakin dengan berbagai model pendekatan seperti itu maka agama benar-benar akan berfungsi sebagai alat pemersatu bangsa.

Hal yang sama juga disampaikan Prof. Dr. Azyumardi Azra, M.Phil, M.A. Ia mengatakan Nusantara adalah benua maritim yang dipenuhi dengan agama-agama besar dunia, seperti Islam, Kristen, Katolik, Hindu dan Budha.

Keragaman agama tersebut telah menimbulkan ikatan solidaritas bangsa Indonesia yang demikian kuat, yang tidak ditemukan di negara lain termasuk benua Eropa.

“Inilah keistimewaan kita, di mana agama tidak memecah belah bangsa tetapi justru telah menjadi ikatan solidaritas dan pemersatu penduduk Indonesia,” katanya.

Ia mencontohkan bagaimana agama di Eropa telah menjadi pemecah belah penduduknya. Perbedaan agama di Eropa telah memicu munculnya negara-negara baru.

“Beda sedikit, mereka lantas bikin negara baru,” tegas Prof Azyumardi.

Indonesia lanjut Prof Azyumardi adalah negara demokrasi ketiga terbesar di dunia setelah India dan Amerika Serikat.

Indonesia berdasarkan Pancasila sebagai common platform di antara komunitas dan kelompok warga yang sangat majemuk.

Dengan Panacasila ini dipastikan Indonesia bukanlah negara berdasarkan agama, juga tidaklah negara murni sekular.

“Mayoritas mutlak warga dan pemimpin Indonesia menerima Pancasila sebagai final untuk dasar negara Indonesia,” tandasnya.

Leave a Comment