6.1 C
New York
29/11/2022
Aktual Ekonomi

Tumbuhkan Jiwa Kewirausahaan Generasi Muda, Mabes TNI dan Unkris Selenggarakan Kemsos Kreatif 2022

JAKARTA (Pos Sore) — Agar inovasi benar-benar mewujud menjadi produk ataupun jasa, maka pengembangan kewirausahan ke depan harus berbasis pada pengetahuan dan teknologi (knowledge base economy).

“Bukan lagi pada resouce base economy,”
kata Ketua Lembaga Pengembangan Kreativitas dan Kebangsaan (LPKK) Universitas Krisnadwipayana (Unkris) Dr. Susetya Herawati, Rabu 16 November 2022.

Perubahan itu terjadi seiring adanya pergeseran paradigma pembangunan Indonesia yang kini lebih bergantung pada ilmu pengetahuan dan teknologi.

Herawati mengemukakan hal tersebut saat berbicara pada kegiatan Komunikasi Sosial (Komsos) Kreatif 2022. Kegiatan ini bertemakan “Melalui Komsos Kreatif Kita Wujudkan Ekonomi Kreatif Kerakyatan Dalam Rangka Membantu Mempercepat Pemulihan Ekonomi Nasional”.

Kegiatan tersebut diselenggarakan Mabes TNI bekerjasama dengan Universitas Krisnadwipayana secara hybrid, di kampus Unkris, Jatiwaringin, Bekasi, Jawa Barat,

Herawati menyampaikan untuk menjadi seorang wirausahawan, menemukan ide bisnis adalah langkah pertama yang harus dilakukan.

Menurutnya, ide ini bisa digali dari potensi yang dimiliki individu seperti bakat dan hobi. Bisa juga muncul dari persoalan yang terjadi di sekitar, atau inspirasi dari masalah personal, menemukan pesaing dan melalui riset.

“Ide-ide itu semua karena kita lahir memang punya kreativitas yang bersangkutan dengan kemauan dan kehendak,” lanjutnya.

Menurut Herawati, berbeda dengan inovasi, kreativitas adalah kapasitas pikiran, dengan melibatkan rasa dan kehendak.

“Talenta atau bakat bawaan mendukung kreativitas, meskipun tidak semua orang yang memiliki talenta adalah kreatif, jenius adalah orang yang brilian dan sekaligus kreatif,” tukasnya.

Sedang penemuan khusus dalam bidang sains dan teknologi yang lebih berstandar pada kekuatan ratio tanpa melibatkan rasa, emosi dan kehendak.

“Meski demikian, kreativitas tidak akan menjadi apa-apa jika tidak disentuh dengan knowledge dan inovasi.” ujarnya.

Herawati melanjutkan penduduk Indonesia saat ini tercatat 270,2 juta jiwa. Dari jumlah ini, penduduk usia produktif mencapai 191,08 juta jiwa dan berusia milenial 69,38 juta jiwa.

Itu artinya, sebanyak 25,87% dari jumlah penduduk Indonesia merupakan generasi muda yang pada 2030 nanti akan menjadi penopang dari penduduk usia tua.

“Bayangkan apa yang akan terjadi, jika generasi milenial tersebut menganggur,” tambah Herawati.

Karena itu, Herawati yang juga Ketua LPKK Unkris, menilai, solusinya adalah menumbuhkan jiwa kewirausahaan pada generasi milenial terutama para mahasiswa.

Bagi Herawati, bangsa Indonesia membutuhkan lebih banyak lagi wirausaha yang mampu mengembangkan produk inovasi.

Harus diingat, syarat menjadi negara maju harus memiliki wirausaha sekitar 14% dari total jumlah penduduknya. Sedangkan Indonesia saat ini baru memiliki 3% dari penduduknya yang menjadi wirausaha.

Fiter Silaen, Kepala Bagian Perencanaan Pemantauan dan Evaluasi Kedeputian Bidang Kewirausahaan Kemenkop dan UMKM, menambahkan, untuk meningkatkan rasio entrepreneur hingga 3,95 persen pada 2024, pemerintah telah menargetkan penambahan 1 juta wirausahawan muda.

“Untuk memenuhi target tersebut membutuhkan keterlibatan semua pihak terutama kalangan perguruan tinggi,” ujarnya.

Menurut Fiter, jiwa kewirausahaan itu perlu dibentuk sejak usia muda seperti pada usia-usia mahasiswa. Tujuannya agar wirausaha yang lahir bukanlah pengusaha yang sifatnya temporer, tetapi yang memiliki potensi menjadi besar di masa depannya.

“Jadi bukan sekadar menjadi pelaku usaha karena keterdesakan. Sebab ketika pandemi, banyak orang yang kemudian menjadi pelaku usaha tetapi berdasarkan survei hanya sedikit sekali yang terus eksis,” kata Fiter.

Untuk mendorong mahasiswa menjadi entrepreneur muda, selain diperlukan penguatan kurikulum kewirausahaan, perguruan tinggi juga perlu membentuk inkubator bisnis.

Tujuannya, untuk membantu para mahasiswa menggali potensi bisnis yang ada baik itu potensi dari dalam diri mahasiswa, potensi di sekitarnya, dan potensi-potensi lainnya.

“Jadi, perguruan tinggi perlu memiliki lembaga inkubator yang mumpuni sehingga ke depan bisa menelurkan mahasiswa bukan sekadar pelaku bisnis tapi pengusaha besar disama depan,” tambahnya.

Direktur PT. Pusat Studi Apindo (ATC), Prof Prayitno, menyampaikan, untuk menjadi seorang entrepreneur, hal pertama yang harus dilakukan adalah mengenal DNA kewirausahaan.

“DNA yang dimaksud yaitu kenal, kanal dan kawal. Kenal artinya harus mengenal potensi atau bakat yang dimiliki,” tandasnya.

Untuk itu, para mahasiswa harus memiliki roadmap atau peta jalan. Peta jalan ini penting untuk menjadi tuntunan mau jadi apa di masa depannya.

“Karena kalau tidak punya peta jalan, begitu lulus, ilmunya susah, sudah jadi doktor malah buka usaha pecel lele. Ini tidak sesuai dengan ilmu yang kita punya,” katanya.

Menurutnya, untuk menjadi seorang sukses kuncinya adalah berani menjadi minoritas. Dalam arti berbeda dengan kebanyakan yang dilakukan orang.

“Menang talenta itu belum tentu menjadi sukses. Dalam beberapa kasus ajang pencarian bakat, banyak yang menang namun dalam perjalanannya tidak menjadi bintang. Tetapi sebaliknya, mereka yang tidak menang malah menjadi sukses,” tambahnya.

Selain talenta, menjadi seorang wirausaha juga harus memiliki performance. Ingat, tidak semua orang bisa menjadi entreprenur.

“Karena menjadi entrepreneur harus memiliki nyali, ketahanan, inisiatif dan keuletan,” tambahnya.

Jika sudah mengenal talenta, maka untuk menjadi seorang pebisnis, jelas Prof Prayinto, seseorang juga harus memiliki kanal. Kanal ini bisa dalam bentuk relasi, bisa juga role model.

Terakhir adalah mengawal bisnis. Untuk menjadi seorang pebisnis besar, maka kita harus masuk dalam komunitasnya agar kita ikut menjadi besar.

Sementara itu, Ketua Umum Himpunan Pengusaha dan Wiraswasta Indonsia (HIPWI), Toro Sudarmadi, mengatakan banyak pelaku UMKM yang tidak bertahan karena dalam bisnisnya hanya fokus pada produk dan melupakan brand awarness.

“Padahal brand awarnes merupakan hal penting dalam strategi pemasaran agar produk lebih dikenal masyarakat,” tukasnya.

Menurutnya, brand awarness penting untuk menggambarkan tingkat pengetahuan masyarakat akan produk yang kita jual. Dalam meningkatkan brand awarnes seorang pelaku bisnis bisa memanfaatkan media sosial.

“Namun hal yang perlu diingat, seseorang harus memilih dengan tepat kanal media sosial yang akan digunakan. Karena tidak semua medsos didatangi oleh calon pembeli kita,” katanya.

Toro juga melihat pentingnya pelaku UMKM untuk masuk dalam e-commerce. Karena bergabung dalam system e-commerce, pelaku bisnis akan mendapatkan feedback dari konsumennya baik terkait produk, maupun pengiriman dan layanan lainnya.

Kegiatan Kemsos ini juga dihadiri Aster Panglima TNI Mayjen TNI Purwo Sudaryanto, Ketua Senat/Pembina Yayasan Unkris Prof. Dr. T.Gayus Lumbuun SH, MH, Ketua Yayasan Unkris Amir Karyatin SH dan Rektor Unkris Dr. Ir. Ayub Muktiono, M.SiP.,CIQaR.

Leave a Comment